Itikaf: Arti, Tata Cara, dan Waktu Pelaksanaan

Itikaf: Arti, Tata Cara, dan Waktu Pelaksanaan

itikaf

Sepuluh hari terakhir Ramadhan identik dengan ibadah i’tikaf di masjid, namun bukan sekadar pindah tempat tidur ke masjid yaa, sudah tahukah Sahabat apa yang dimaksud dengan i’tikaf dan bagaimana tata caranya? Simak selengkapnya di sini.

Arti dari I’tikaf

I’tikaf berasal dari bahasa Arab ‘Akafa’ artinya ‘menetap’, ‘mengurung diri’ atau ‘terhalangi’. Pengertiannya kurang lebih berdiam diri di dalam masjid untuk mencari keridhoan Allah dan bermuhasabah atas segala perbuatan.

Makanya, beri’tikaf bukan sekadar perpindahan tempat aktivitas dari rumah ke masjid, tapi juga perpindahan hati dari segala urusan duniawi ke ukhrawi.

Waktu Pelaksanaan I’tikaf

I’tikaf di bulan Ramadhan biasanya dilakukan pada 10 hari terakhir, sebagaimana yang dicontohkan oleh Rasulullah SAW. hingga akhir hayatnya:

“Sesungguhnya Nabi SAW melakukan i’tikaf pada sepuluh hari terakhir bulan Ramadan hingga beliau wafat, kemudian istri-istrinya mengerjakan i’tikaf sepeninggal beliau.” (H.R. Bukhari dan Muslim)

Apakah i’tikaf berarti harus menginap di masjid? Ulama mazhab Hanafi, Syafi’I, dan Hambali bersepakat bahwa waktu sahnya beri’tikaf adalah sa’ah, baik di siang atau malam hari.

Apa itu sa’ah? Dalam bahasa Arab modern, sa’ah dimaknai dengan satu jam atau 60 menit. Sementara, istilah yang digunakan oleh para ulama masa lalu untuk memaknai sa’ah adalah sesaat atau seperti selama tuma’ninah shalat. Artinya, meski hanya satu jam berdiam diri di masjid sudah dapat dikatakan beri’tikaf.

Tata Cara Yang Bisa dilakukan Saat I’tikaf

1. Awali dengan niat yang benar

Jangan sampai kita salah memasang niat dalam melakukan i’tikaf, sungguh amat disayangkan karena semua amalan dinilai oleh Allah tergantung niatnya.

Ada orang yang berniat i’tikaf hanya untuk mendapat  makan sahur dan buka puasa gratis. Ada juga yang berniat i’tikaf karena ingin menghindari permasalahan di rumah. Awas … Salah niat bisa gawat!

Jadi niat seperti bagaimanakah yang harus kita pasang saat beri’tikaf? Yap, niat untuk mendekatkan diri pada Allah dan membersihkan diri dari segala kesalahan.

2. Memperbanyak shalat sunah

Begitu sampai di masjid, kita bisa mengawali dengan shalat sunah tahiyatul masjid. Sebelum dan sesudah shalat wajib bisa kita iringi dengan shalat sunah qobliyah maupun ba’diyah.

3. Memperbanyak tilawah qur’an

Selama berdiam diri di masjid, jangan habiskan waktu untuk scroll hp, online, melainkan perbanyaklah membuka lembaran mushaf Qur’an.

Upayakan bisa khatam qur’an di saat melakukan i’tikaf di masjid hingga akhir Ramadhan, meskipun tidak diwajibkan khatam, namun sungguh besar pahala yang diperoleh jika kita mampu menyelesaikan bacaan 30 juz Al Qur’an di bulan suci ini.

“Siapa yang membaca satu huruf dari Al Quran maka baginya satu kebaikan dengan bacaan tersebut, satu kebaikan dilipatkan menjadi 10 kebaikan semisalnya dan aku tidak mengatakan “alif lam mim” satu huruf akan tetapi Alif satu huruf, Laam satu huruf dan Miim satu huruf” ( HR. Tirmidzi)

4. Memperbanyak dzikir, tahlil, tahmid, tasbih

Perbanyak dzikir seperti bacaan tahlil, tahmid serta tasbih selama beri’tikaf, jangan biarkan waktu terlewati tanpa membasahi lisan dengan dzikir.

Imam Muslim dalam kitab shahihnya meriwayatkan hadits dari Samurah bin Jundab ra.:

“Rasulullah SAW bersabda: Kalimat yang paling dicintai Allah ada 4. Anda tidak ada salah memulai dari kalimat mana saja: Subhanallah, Alhamdulillah, Laa ilaaha illallah, dan Allahu Akbar.”

“Barangsiapa bertasbih sebanyak tiga puluh tiga kali, bertakbir tiga puluh tiga kali, dan bertahmid tiga puluh tiga kali, kemudian mengucapkan: Laa ilaaha illa Allah wahdahu laa syarikalah lahul mulku wa lahul hamdu wa huwa ’ala kulli sya’in qadir, setiap selesai shalat, maka akan diampuni dosanya meski sebanyak buih di lautan.”(HR Imam Ahmad, Darimi, Malik)

5. Memperbanyak shalawat nabi

Bershalawat untuk Rasulullah SAW. merupakan satu hal yang perlu diperbanyak selama melakukan i’tikaf. Sungguh, hanya Rasulullah SAW saja yang dapat memberikan syafaat pertolongannya pada kita di akhirat nanti. Maka, memperbanyak shalawat berarti memperbesar kemungkinan kita mendapat syafaat Rasulullah SAW.

Dalam sebuah hadist riwayat Imam Thabrani dari Sahabat Anas bin Malik dikatakan, “Siapa yang bershalawat untukku maka shalawat itu akan sampai padaku dan aku akan bershalawat untuknya, dan baginya akan dicatat 10 kebaikan.”

6. Memperbanyak doa

Saat melakukan i’tikaf kita bisa memperbanyak doa, apalagi doa adalah inti ibadah, saat kita menyadari kelemahan sebagai hamba. Allah sendiri menyebut orang yang tak mau berdoa sebagai orang yang sombong.

“Dan Tuhanmu berfirman: “Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku akan masuk neraka Jahannam dalam keadaan hina dina.” (Q.S. Al Mukmin: 60)

Demikianlah beberapa hal yang perlu kita ketahui mengenai i’tikaf, selamat mempraktikkan.

Tips Mendapat Lailatul Qadar di Bulan Ramadhan

Tips Mendapat Lailatul Qadar di Bulan Ramadhan

Tips sederhana untuk memastikan diri mendapat keutamaan Lailatul Qadar ini sangat mudah dipraktikkan. Cek selengkapnya yuk!

Lailatul Qadar

Sahabat, dahsyat sekali ya pastinya jika kita melakukan amal kebaikan sekali, namun amal tersebut terus dicatat pahala kebaikannya seolah kita telah melakukannya secara konsisten setiap hari selama 83 tahun. Maasya Allah.

Itulah yang terjadi jika kita melakukan amalan bertepatan dengan malam lailatul qadr. Segala kebaikan yang kita perbuat akan dilipatgandakan pahalanya hingga mencapai seribu bulan, padahal usia kita sendiri bisa jadi tidak sampai selama itu.

Lalu bagaimana agar kita bisa mendapatkan pahala kebaikan di malam Lailatul Qadar Ramadhan tahun ini? Terutama bagi orang-orang yang tidak kuat terjaga sepanjang malam untuk berdiri mengerjakan shalat atau tilawah Qur’an, apa yang bisa diupayakan?

Berikut ini ada 4 tips agar kita bisa mendapatkan pahala malam Lailatul Qadar dengan optimal, yuk dipraktikkan semoga bermanfaat:

  • 1. Bersedekah setiap malam di 10 hari terakhir Ramadhan

Jika kita bersedekah setiap malam di 10 hari terakhir Ramadhan, kemungkinan amal sedekah kita bertepatan dengan malam lailatul qadr akan semakin besar.

Hanya bersedekah Rp 100ribu saja, jika dilakukan bertepatan dengan malam Lailatul Qadar, maka pahala yang dicatatkan oleh malaikat setara dengan bersedekah 2,9 Milyar Rupiah. Allaahuakbar!

Itu sebabnya strategi nomor satu ini penting dilakukan, mudah-mudahan bisa memperbesar kemungkinan kita mendapat keutamaan malam mulia ini.

Apalagi, berbeda dengan shalat, tilawah quran, ataupun amal ibadah lainnya, amalan sedekah tergolong paling gampang dilakukan. Zaman sekarang, sedekah bisa dilakukan melalui m-banking, tidak perlu keluar rumah, tidak menghabiskan effort yang besar. Sungguh sayang jika kita tak mencobanya di 10 hari terakhir Ramadhan ini.

  • 2. Berdoa setiap waktu sahur agar Allah memberikan kita keutamaan Lailatul Qadar

Keberkahan dan kesejahteraan malam Lailatul Qadar berlangsung hingga terbitnya fajar, maka di waktu sahur sangat baik jika kita memperbanyak doa, salah satu doa tersebut adalah agar dipertemukan dengan malam Lailatul Qadar.

“Rabb kita tabaroka wa ta’ala turun ke langit dunia ketika tersisa sepertiga malam terakhir. Lantas Dia berfirman, “Siapa saja yang berdo’a kepada-Ku, maka akan Aku kabulkan. Siapa yang meminta kepada-Ku, maka akan Aku beri. Siapa yang meminta ampunan kepada-Ku, maka akan Aku ampuni.” (HR. Bukhari no. 1145 dan Muslim no. 758). Imam Nawawi berkata, “Pada waktu itu adalah waktu tersebarnya rahmat, banyak permintaan yang diberi dan dikabulkan, dan juga nikmat semakin sempurna kala itu.” (Idem, 6: 36).

Baca Juga:
8 Keistimewaan Malam Lailatul Qadar

  • 3. Memperbanyak baca Quran di 10 malam terakhir Ramadhan

Bayangkan jika membaca satu huruf al Quran diganjar sepuluh kebaikan, dan kita berhasil membaca 1 juz Quran (10 lembar) di mana ada ribuan huruf di dalamnya, maka akan dicatatkan seolah membaca 1 juz setiap hari selama 83 tahun. Maasya Allah.

Rasulullah SAW bersabda: ‘Barangsiapa yang membaca satu huruf dari Kitabullah (Al-Quran), maka dia akan mendapat satu kebaikan. Satu kebaikan akan dilipatkan menjadi sepuluh semisalnya. Aku tidak mengatakan alif lam mim satu huruf. Namun, alif satu huruf, lam satu huruf, dan mim satu huruf’,” (HR. At-Tirmidzi).

  • 4. I’tikaf di Masjid

Salah satu amalan di bulan Ramadhan yang tak pernah dilewatkan oleh Rasulullah SAW. adalah i’tikaf di 10 malam terakhir. Jika kita berdiam diri di masjid setiap malam selama 10 hari berturut-turut di akhir Ramadhan, kemungkinan bertemu dengan malam lailatul qodar amat besar.

“Sesungguhnya Nabi SAW. melakukan i’tikaf pada sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan hingga beliau wafat, kemudian istri-istrinya mengerjakan i’tikaf sepeninggal beliau”. (Hadis Shahih, riwayat al-Bukhari: 1886 dan Muslim: 2006).

Sahabat, semoga Allah mudahkan kita mendapatkan keutamaan Lailatul Qadar di Ramadhan tahun ini.

Perhitungan Dalam Membayar Zakat Fitrah

Perhitungan Dalam Membayar Zakat Fitrah

Perhitungan Dalam Membayar Zakat Fitrah

Ramadhan tidak lengkap tanpa zakat fitrah, sungguh segala perbuatan sia-sia dan perkataan tidak baik yang kita ucapkan saat sedang berpuasa Ramadhan, insya Allah akan dibersihkan oleh zakat fitrah. Syaratnya, zakat fitrah harus dibayarkan sebelum shalat Idul Fitri.

“Rasulullah SAW mewajibkan zakat fitrah itu sebagai pembersih bagi orang yang berpuasa dari perbuatan sia-sia dan perkataan kotor dan sebagai makanan bagi orang miskin. Karena itu, barang siapa mengeluarkan sesudah salat maka dia itu adalah shadaqoh biasa.” (H.R. Abu Daud)

Saking wajibnya zakat fitrah ini, bahkan seorang hamba sahaya (budak) dan bayi baru lahir sekalipun dikenakan zakat fitrah juga.

“Rasulullah SAW mewajibkan zakat fitrah satu sha’ kurma atau satu sha’ gandum atas umat muslim; baik hamba sahaya maupun merdeka, laki-laki maupun perempuan, kecil maupun besar. Beliau SAW memerintahkannya dilaksanakan sebelum orang-orang keluar untuk shalat.” (HR Bukhari Muslim)

Lalu, bagaimanakah perhitungan zakat fitrah? Berikut penjelasan selengkapnya.

Apakah janin dalam kandungan wajib bayar zakat fitrah?

Janin dalam kandungan tidak wajib zakat, akan tetapi jika orangtuanya membayarkan zakat fitrahnya maka insya Allah lebih baik. Akan tetapi ada pula sebagian ulama yang mewajibkan zakat fitrah untuk janin dalam kandungan.

Dari Imam Ahmad, dalam salah satu riwayat lainnya, bahwa zakat fitrah untuk janin hukumnya wajib. Karena janin termasuk manusia, boleh menerima wasiat, bisa menerima warisan. Sehingga dia masuk dalam keumuman hadis tentang zakat fitrah, dan juga diqiyaskan dengan bayi yang sudah lahir. (Al-Mughni, 3/99).

Keterangannya adalah bahwa janin tersebut telah berusia 4 bulan dalam kandungan sebelum Subuh hari raya.

“Terdapat keterangan dari sebagian sahabat, jika janin sudah genap usia 4 bulan dalam kandungan, sebelum subuh hari raya, maka wajib dibayarkan zakat fitrahnya. Mereka menjadikan 4 bulan sebagai batas, bersandar dengan hadis Ibn Mas’ud bahwa penciptaan manusia dalam rahim ibunya selama 40 hari dalam bentuk nutfah… hingga ditiupkan ruh setelah berusia 120 hari.” (Al-I’lam bi Fawaid Umdatul Ahkam, 3/57).

Zakat Fitrah Anak dibayarkan oleh Siapa?

Zaman sekarang makin banyak anak yang sudah mampu menghasilkan uang sendiri, misalnya dengan menjadi pembuat konten, penulis buku, menjadi pebisnis, dan lainnya, maka zakat fitrah anak-anak ini diambil dari hartanya sendiri.

Sedangkan anak-anak yang tidak memiliki harta atau penghasilan, zakat fitrahnya dibayarkan oleh sang ayah sebagai penanggung nafkah keluarga.

Iman Nawawi –rahimahullah- berkata:
“Jika seorang anak tidak mempunyai harta, maka zakat fitrahnya dibayarkan oleh ayahnya, ayahnya wajib membayarkannya sesuai dengan ijma’ para ulama, diriwayatkan oleh Ibnul Mundzir dan lainnya, namun jika seorang anak mempunyai harta, maka zakat fitrahnya diambilkan dari hartanya, demikian pendapat Abu Hanifah, Ahmad, Ishak dan Abu Tsaur”. (Al Majmu’: 6/108)
Lalu bagaimana jika anak tersebut tidak memiliki ayah (yatim)?

Jika anak yatim ini memiliki harta, maka zakat fitrah wajib diambil dari hartanya, namun jika anak yatim ini tak memiliki harta, maka zakat fitrah wajib dibayarkan oleh kerabatnya atau yang menjadi penanggungnya.
An Nawawi –rahimahullah- berkata:
“Anak yatim yang mempunyai harta maka dia wajib membayarkan zakat fitrahnya dengan hartanya menurut madzhab kami, demikian juga pendapat jumhur ulama seperti Malik, Abu Hanifah dan Ibnu Al Mundzir”. (Al Majmu’: 6/109)

Siapa yang membayar zakat fitrah istri?

Syariat Islam terutama yang berkenaan dengan hukum fiqih memiliki banyak perbedaan pendapat mengenai sesuatu hal, ini disebabkan perbedaan kondisi daerah yang satu dengan yang lainnya, perbedaan budaya yang satu dengan budaya lainnya, dan juga ijtihad para ulama mengenai suatu persoalan.

Termasuk mengenai zakat fitrah istri, siapakah yang berkewajiban membayarnya?

Prof Abdul Karim Zaidan dalam karyanya yang berjudul al-Mufashhal fi Ahkam al-Mar’ati menjelaskan bahwa para ulama dari Mazhab Hanbali, Syafi’i, dan Maliki sepakat bahwa jika seseorang memiliki tanggungan keluarga yang mesti ia nafkahi, ia pun wajib membayar zakat fitrah mereka.

Ini berarti zakat fitrah istri ditanggung oleh suami, sebagaimana zakat anak-anak ditanggung oleh ayahnya sebagai penanggung nafkah keluarga.

Akan tetapi bagaimana jika sang suami sedang tidak berpenghasilan sedangkan istrinya justru berpenghasilan?

Ada beberapa pendapat ulama mengenai hal ini, yang pertama, kewajiban membayar zakat fitrah istri gugur dikarenakan sang penanggungjawab nafkah tidak berkemampuan. Istri tidak wajib membayarkan zakat fitrah dirinya sendiri, suami, ataupun anak-anaknya.

Namun pendapat kedua, istri tetap wajib membayar zakat fitrah untuk dirinya.

Cara membayar zakat fitrah online dan offline

Berikut ini besaranyang harus di bayarkan untuk zakat fitrah setiap waktunya :

  1. Kewajiban zakat Fitrah setiap orang adalah 3,5 liter beras/makanan pokok.
    Jika dihitung dari segi berat, maka Zakat Fitrah per orang yakni 2,5 kg beras. Akan tetapi ulama kontemporer berpendapat zakat fitrah bisa disalurkan dalam bentuk uang tunai sesuai harga beras 2,5kg.
  2. Nilai zakat fitrah setara dengan uang sebesar Rp45.000,-/jiwa.
    Besaran ketetapan ini berdasarkan SK Ketua BAZNAS No. 10 Tahun 2022 tentang Zakat Fitrah dan Fidyah untuk wilayah Ibukota DKI Jakarta Raya dan Sekitarnya.

Sahabat yang ingin membayar zakat fitrah untuk diri dan keluarga, bisa mengamanahkan penyaluran zakat fitrah kepada Dongeng Ceria Indonesia dan Yatim Seribu Pulau secara online atau offline.

Dongeng ceria akan menyalurkan zakat fitrah Sahabat untuk 8 asnaf zakat (mustahik) sesuai ketentuan syariat, insya Allah.

========================================================

Salurkan sedekah Sahabat melalui rekening Dongeng Ceria Indonesia:

Salurkan SEDEKAH TERBAIK sahabat dengan klik tombol di bawah ini :

Bayar Sekarang

8 Keistimewaan Malam Lailatul Qadar

8 Keistimewaan Malam Lailatul Qadar

Keistimewaan Malam Lailatul Qadar

Sahabat, pernah mendengar apa itu malam Lailatul Qadr? Ya, malam yang kadarnya setara dengan 83 tahun (1000 bulan).

Apapun amalan yang kita lakukan di malam Lailatul Qadr, ganjaran kebaikannya seolah-olah kita telah melakukan amalan tersebut setiap hari selama 1000 bulan. Wow!

“Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (al-Quran) pada malam Lailatul Qadr. Dan tahukah kamu apakah malam Lailatul Qadr itu? Malam Lailatul Qadr itu lebih baik dari seribu bulan. Pada malam itu turun malaikat-malaikat dan malaikat Jibril dengan izin Rabbnya untuk mengatur segala urusan. Malam itu (penuh) kesejahteraan sampai terbit fajar” (QS. Al-Qadr: 1-5).

Nah, apa saja sih keistimewaan malam Lailatul Qadr? Kenapa banyak orang yang mengincar malam Lailatul Qadr ini?

Berikut 8 keistimewaan Lailatul Qadr yang perlu diketahui:

1. Malam diturunkannya Al Quran

“Bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan Al-Quran…” (QS. Al-Baqarah: 185)

Malam Lailatul Qadr begitu istimewa karena pada malam inilah Al Qur’an diturunkan pertama kali.

Seperti yang kita ketahui, Al Qur’an diturunkan selama sekitar 23 tahun secara berangsur-angsur melalui perantara Malaikat Jibril.

Nah, 5 ayat pertama Al Qur’an yang turun di bulan Ramadhan adalah Surah Al ‘Alaq 1-5, dan ayat-ayat ini turun pada saat malam Lailatul Qadr.

2. Malam yang nilainya lebih baik daripada 1000 Bulan (83 tahun)

“Tahukah kamu apa itu lailatul qadar? Lailatul qadar lebih baik daripada seribu bulan.” (Q.s. Al-Qadar:2–3)

Malam lailatul qadr ini merupakan kabar gembira bagi umat Nabi Muhammad SAW. yang kebanyakan berusia pendek (di bawah seratus tahun). Bandingkan dengan usia para Nabi sebelum Nabi Muhammad, ada yang mencapai usia ratusan tahun.

Oleh sebab itu malam Lailatul Qadr adalah bonus luar biasa dari Allah, di mana ibadah atau amalan kebaikan apapun yang kita lakukan saat lailatul qadr, maka ganjaran pahalanya setara dengan beribadah 83 tahun lamanya.

Jika setiap Ramadhan kita memperoleh kemuliaan Lailatul Qadr, bukankah sangat luar biasa?

3. Malam penuh keberkahan

“Sesungguhnya Kami menurunkannya pada suatu malam yang diberkahi dan sesungguhnya Kami-lah yang memberi peringatan. Pada malam itu dijelaskan segala urusan yang penuh hikmah, (yaitu) urusan yang besar dari sisi Kami.  Sesungguhnya Kami adalah Yang mengutus rasul-rasul.” (QS. Al-Dukhan: 3-5)

Malam lailatul qadr penuh dengan keberkahan. Keberkahan berarti kenikmatan yang banyak dan bertambah. Jika belum memahami konsep keberkahan, kurang lebih seperti ini ilustrasinya …

Ada seseorang yang memiliki uang Rp 10.000 namun ia mensyukuri uang yang sedikit tersebut. Ternyata kesyukurannya membawa keberkahan, dengan hanya memiliki uang sepuluh ribu itu, ia bisa mendapat makanan untuk sekeluarga, bisa untuk membayar utangnya, bisa untuk membayar kebutuhan sekolah anaknya, seperti itulah yang dimaksud dengan keberkahan.

Dan itu yang terjadi pada saat Lailatul Qadr, hanya dalam satu malam, segalanya bisa terpenuhi, tercukupi, begitu banyak kebaikan tercurah pada malam kemuliaan tersebut.

4. Dicatatkan takdir setahun ke depan

“Pada malam itu dijelaskan segala urusan yang penuh hikmah” (QS. Ad Dukhan: 4).

Ibnu Katsir rahimahullah berkata mengenai malam Lailatul Qadr, “Pada malam lailatul qadar ditetapkan di Lauhul Mahfuzh mengenai takdir dalam setahun yaitu terdapat ketetapan ajal dan rezeki, begitu pula berbagai kejadian yang akan terjadi dalam setahun. Demikianlah yang diriwayatkan dari Ibnu ‘Umar, Abu Malik, Mujahid, Adh Dhohak, dan ulama salaf lainnya.” Sebagaimana disebutkan dalam Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim dalam penjelasan ayat di atas.

Merinding, meskipun takdir kita telah ditetapkan saat di alam rahim, ketika manusia masih berupa gumpalan darah janin, rupanya takdir tersebut bisa ‘dikoreksi’ di malam lailatul qadr, oleh karena itu buru malam istimewa ini untuk membaguskan takdir satu tahun ke depan, insya Allah.

Syaikh As Sa’di dalam Taisir Al Karimir Rahman berkata, “Ada salah satu pencatatan kitab yang terdapat pada malam lailatul qadar. Kitab tersebut dicatat namun masih bersesuaian dengan takdir yang dulu sudah ada, di mana Allah sudah menetapkan berbagai takdir makhluk, mulai dari ajal, rezeki, perbuatan serta keadaan mereka. Dalam penulisan tersebut, Allah menyerahkan kepada para malaikat.

Takdir tersebut dicatat pada hamba ketika ia masih berada dalam perut ibunya. Kemudian setelah ia lahir ke dunia, Allah mewakilkan kepada malaikat pencatat untuk mencatat setiap amalan hamba. Di malam lailatul qadar tersebut, Allah menetapkan takdir dalam setahun. Semua takdir ini adalah tanda sempurnanya ilmu, hikmah dan ketelitian Allah terhadap makhluk-Nya.”

5. Malam penuh kesejahteraan

“Malam itu (penuh) kesejahteraan sampai terbit fajar.” (QS. Al-Qadar: 5)

“Adalah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersungguh-sungguh (beribadah apabila telah masuk) malam kesepuluh (terakhir) yang tidak pernah beliau lakukan pada malam-malam lainnya.” (HR. Muslim)

Malam Lailatul qadr begitu luar biasanya dan penuh dengan keselamatan dan kesejahteraan hingga terbit fajar, bahkan Rasulullah SAW. tak ingin mengendorkan ibadah di 10 malam terakhir Ramadhan, melainkan justru memperkuat segala amalan.

Padahal Rasulullah SAW. sudah dijamin masuk surga, beliau masih amat bersungguh-sungguh mengejar keutamaan malam Lailatul Qadr, seharusnya kita lebih serius daripada beliau.

6. Malam penuh ampunan

“Barangsiapa menegakkan shalat pada malam Lailatul Qadr atas dorongan iman dan mengharap balasan (dari Allah), diampunilah dosa-dosanya yang telah lalu.” (H.R Al Bukhari, An Nasa’i, dan Ahmad)

Kabar gembira bagi para ‘pendosa’, jangan putus asa dari rahmat Allah, perkuatlah ibadah di 10 malam terakhir Ramadhan, berharap Allah kehendaki kita berjumpa dengan malam Lailatul Qadr sehingga segala dosa terampuni.

7. Para malaikat turun ke bumi

“Pada malam itu turun malaikat-malaikat dan malaikat Jibril dengan izin Tuhannya untuk mengatur segala urusan.” (QS. Al- Qadar ayat 4)

Jibril dan pasukan malaikat lainnya turun ke bumi di malam ini, sehingga kondisi bumi di malam penuh berkah ini sangat tenang dan damai.

8. Lipatganda pahala

“Setiap amalan kebaikan yang dilakukan oleh manusia akan dilipatgandakan dengan sepuluh kebaikan yang semisal hingga tujuh ratus kali lipat. Allah Ta’ala berfirman (yang artinya), “Kecuali amalan puasa. Amalan puasa tersebut adalah untuk-Ku. Aku sendiri yang akan membalasnya. Disebabkan dia telah meninggalkan syahwat dan makanan karena-Ku. Bagi orang yang berpuasa akan mendapatkan dua kebahagiaan yaitu kebahagiaan ketika dia berbuka dan kebahagiaan ketika berjumpa dengan Rabbnya. Sungguh bau mulut orang yang berpuasa lebih harum di sisi Allah daripada bau minyak kasturi.” (HR. Bukhar-Muslim)

Bersiaplah mendapat lipatganda ganjaran kebaikan beribu kali lipat ketika melakukan amalan di malam Lailatul Qadr.

Sahabat, mari bersungguh-sungguh mempersiapkan diri agar dapat berjumpa dengan Lailatul Qadr yang istimewa. Semoga Allah perkenankan kita mendapat segala keutamaan Lailatul Qadr.

===================================================

Yuk turut sediakan makanan berbuka untuk yatim & dhuafa

Salurkan SEDEKAH TERBAIK sahabat untuk buka puasa 99 santri penghafal quran Yatim Seribu Pulau

sedekah Sekarang

Cara Mengendalikan Hawa Nafsu Menurut Islam

Cara Mengendalikan Hawa Nafsu Menurut Islam

Cara Mengendalikan Hawa Nafsu Menurut Islam

Sahabat, apakah hawa nafsu perlu dihilangkan? Yap, tidak perlu! Faktanya, hawa nafsu amat  dibutuhkan dalam kehidupan ini, hanya saja kita perlu mengetahui cara mengendalikannya.

Hawa nafsu itu ibarat api, jika hanya sebesar api tungku atau kompor … tentu amat bermanfaat untuk memasak, menghangatkan ruangan, namun jika api membesar hingga bisa melalap gedung bangunan, nah … inilah yang membahayakan.

Begitu pula hawa nafsu dalam hidup kita, tentu amat diperlukan agar kita bisa menikmati makanan lezat, agar pasangan suami istri bisa memiliki keturunan, agar manusia bisa memiliki passion dalam karir dan finansial.

Akan tetapi, hawa nafsu berubah membahayakan jika lebih dari kadar yang seharusnya, semestinya manusia lah yang mampu mengendalikan hawa nafsu, tapi faktanya … begitu banyak hawa nafsu yang mengendalikan manusia.

Dalam Islam, ada beberapa cara dalam mengendalikan hawa nafsu. Yuk simak pembahasannya satu per satu.

Pengertian Nafsu Menurut Al Qur’an

 “Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (surga)”. (Q.S. Ali Imran:14)

Dari ayat di atas kita bisa memahami bahwa Allah menjadikan banyak hal sebagai sesuatu yang indah bagi manusia, jadi wajar sekali jika kita sebagai manusia menyukai dan bernafsu pada hal-hal yang Allah sebutkan dalam ayat tersebut: Wanita, anak-anak, harta, emas, perak, kendaraan, dan sawah ladang.

Namun, tantangannya adalah jangan sampai keinginan serta hawa nafsu yang kita miliki tersebut justru memperbudak diri kita. Simak firman Allah dalam ayat lainnya:

“Maka pernahkah kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya dan Allah membiarkannya sesat dengan sepengetahuan-Nya, dan Allah telah mengunci pendengaran dan hatinya serta meletakkan tutup atas penglihatannya? Maka siapa yang mampu memberinya petunjuk setelah Allah (membiarkannya sesat?) Mengapa kamu tidak mengambil pelajaran?” (Q.S. Al Jatsiyah: 23)

Dalam Quran ada cukup banyak pembahasan mengenai manusia yang diperbudak oleh hawa nafsu dan kedudukan manusia yang seperti ini lebih hina dari binatang ternak.

Maka, tugas kita adalah bagaimana menempatkan hawa nafsu dengan tepat sesuai proporsinya.

Apakah Nafsu Bisa Dihilangkan?

Bisa saja, misalnya ada beberapa manusia yang mengebiri dirinya sendiri agar tidak memiliki syafwat terhadap hubungan seksual. Akan tetapi Allah menciptakan hawa nafsu bukan untuk dihilangkan. Sehingga hal-hal seperti kebiri justru diharamkan dalam Islam.

Islam tidak mengajarkan umatnya untuk menghilangkan nafsu, melainkan belajar mengendalikannya.

Apakah Nafsu Itu Dosa?

“Dan aku tidak membebaskan diriku (dari kesalahan), karena sesungguhnya nafsu itu selalu menyuruh kepada kejahatan, kecuali nafsu yang diberi rahmat oleh Tuhanku. Sesungguhnya Tuhanku Maha Pengampun lagi Maha Penyanyang.” (QS Yusuf: 53)

Nafsu itu sendiri merupakan sesuatu yang dibutuhkan oleh manusia. Bayangkan jika kita tak punya nafsu makan, selapar apapun rasanya tidak mau makan sama sekali, memaksakan diri makan pun rasanya tidak nikmat. Atau, bagaimana jika kita tak memiliki nafsu terhadap harta? Rasanya hidup menggembel di pinggir jalan tidak apa-apa, tidak ada gairah hidup.

Maka, nafsu itu sendiri merupakan kebutuhan manusia agar hidup bisa berjalan dengan normal, manusia bisa beranak-pinak. Sayangnya, banyak manusia yang hidup dengan mempertuhankan nafsunya.

Makan sederhana saja bisa kenyang, tapi ia lebih memilih makan di tempat berpuluh kilometer jauhnya hanya untuk wisata kuliner, memanjakan nafsu syahwat di bidang makanan.

Punya gaji sekian juta sebenarnya sudah cukup, tapi karena nafsu akan harta dan kuasa, manusia menjadi tamak menimbun uang hingga bermilyar Rupiah dan tidak rela ia sedekahkan.

Maka, yang membawa dosa adalah ketidakmampuan kita mengendalikan nafsu, bukan nafsu itu sendiri. Ketika misalnya seorang suami bernafsu pada istrinya sendiri, ini bukanlah hal buruk, akan tetapi jika suami memperturutkan nafsunya dengan menyakiti istrinya, nah inilah yang membawa pada kondisi berdosa.

Punya nafsu makan itu bagus sekali, namun menjadi buruk ketika kita berlebihan dalam memperturutkan nafsu makan tersebut, misalnya makan sepuluh porsi sekali makan. Bukankah bahaya untuk lambung dan usus kita? Inilah yang bisa membawa pada dosa, ketika menyebabkan diri sendiri sakit karena tak mampu mengendalikan nafsu.

Faktanya, memperturutkan hawa nafsu takkan pernah memuaskan diri kita. Mengendalikan hawa nafsulah yang justru akan membuat kita kuat dan puas karena bisa menjadikan nafsu sebagai budak yang kita tawan.

Apakah Hanya Orang Beriman yang Dapat Mengendalikan Nafsunya?

Salah satu ciri orang beriman adalah bisa mengendalikan nafsu, karena ia paham ada Allah dan malaikat yang selalu mengawasinya.

Selain itu, orang beriman juga membatasi dirinya dengan ketaqwaan, yakni perintah dan larangan Tuhan yang akan selalu menjadi pedoman hidupnya

Jika ada orang mengaku beriman namun tak bisa mengendalikan nafsu amarah, nafsu syahwat, nafsu akan harta dan kekuasaan, bisa dipastikan keimanannya bermasalah.

 “Tidak beriman seseorang sampai hawa nafsunya ia tundukkan demi mengikuti apa yang aku bawa” (HR. At-Thabrani)

Cara Mengendalikan Hawa Nafsu

“Musuhmu yang paling berbahaya adalah hawa nafsu yang ada di antara lambungmu, anakmu yang keluar dari tulang rusukmu, istrimu yang kamu gauli, dan sesuatu yang kamu miliki.” (HR Al Baihaqi)

Berikut beberapa cara mengendalikan hawa nafsu dalam Islam:

1. Berpuasa

Dalam Islam, salah satu cara terbaik mengendalikan hawa nafsu adalah dengan berpuasa. Ketika berpuasa, bukan hanya nafsu makan dan minum yang ditahan, melainkan juga nafsu seksual, nafsu amarah, nafsu bergosip, dan nafsu yang mengarahkan pada hal buruk lainnya.

Efeknya untuk hidup seseorang, berpuasa akan menyebabkan ia mampu menjadikan hawa nafsu sebagai budaknya.

2. Jihad melawan dominasi nafsu

 “Mukmin yang paling utama adalah umat yang selamat dari keburukan lisan dan tangannya. Mukmin paling utama keimanannya adalah yang paling baik perilakunya. Muhajirin paling utama adalah orang yang meninggalkan larangan Allah. Jihad paling utama adalah jihad melawan nafsu sendiri karena Allah.” (HR. Ahmad, Al Tirmidzi, dan Abu Dawud)

3. Mengubah posisi badan ketika nafsu marah menguasaih

“Apabila kalian marah, dan dia dalam posisi berdiri, hendaknya dia duduk. Karena dengan itu marahnya bisa hilang. Jika belum juga hilang, hendak dia mengambil posisi tidur.” (HR. Ahmad)

Jika amarah belum juga hilang, maka disarankan untuk berwudhu dengan air yang mengalir. Jangan pernah memperturutkan nafsu karena akan meninggalkan penyesalan.

Demikianlah beberapa penjelasan mengenai hawa nafsu dan alasan mengapa kita perlu belajar mengendalikannya. Semoga Allah merahmati kita dengan kemampuan mengendalikan nafsu karena-Nya.

5 Hal Yang Membatalkan Puasa, Setiap Muslim & Muslimah Harus Tahu

5 Hal Yang Membatalkan Puasa, Setiap Muslim & Muslimah Harus Tahu

hal yang membatalkan puasa

Apakah merokok bisa membatalkan puasa? Apakah asyik mendengar musik bisa membatalkan puasa? Apakah menonton film bisa membatalkan puasa? Wah, pertanyaannya macam-macam yaa, jawabannya pun bisa beragam.

Sahabat, ternyata masih banyak yang belum paham apa saja sih hal-hal yang bisa membatalkan puasa. Yuk coba dicek selengkapnya 5 hal yang membatalkan puasa berikut ini:

1. Makan dan minum disengaja

Tentu saja seseorang yang sengaja makan dan minum di siang hari Ramadhan, berarti telah membatalkan puasanya, dan hukuman untuk hal ini tidaklah ringan lho Sahabat.

Maka, jangan sampai deh menyengaja makan dan minum untuk membatalkan puasa Ramadhan padahal tidak ada udzur syar’i (halangan yang diperbolehkan oleh syariat).

Bagaimana jika makan dan minum dengan tidak sengaja alias karena lupa? Maka hal yang seperti ini dimaafkan dan tidak perlu memuntahkan kembali makanan yang sudah dimakan, itu adalah rezeki dari Allah. Kita cukup melanjutkan puasa kita hingga Maghrib tiba, sehingga manfaat minum dan makan akan terasa.

2. Haid dan nifas

Sudah sebentar lagi adzan Maghrib, tapi tiba-tiba keluar darah haid, maka puasamu telah batal dan harus diganti dengan puasa qodho setelah Ramadhan usai ya Sahabat.

Meskipun nyesek karena sudah sedikit lagi adzan Maghrib, tapi tetap saja keluarnya darah haid telah otomatis membatalkan puasamu di hari itu.

3. Keluarnya air mani (sperma)

Nah, kecuali jika keluarnya air mani ini tidak disengaja (mimpi basah), maka puasa yang dilakukan tetap sah, namun orang yang mengalami mimpi basah ini harus segera mandi wajib begitu bangun di pagi hari, lalu lanjutkan berpuasa hingga Maghrib tiba.

Beda halnya jika keluarnya air mani disebabkan suatu perbuatan disengaja, misalnya menonton film yang mempertontonkan aurat, mendengar musik yang merangsang disertai adanya goyangan biduanita, hmm … sudah pasti keluarnya air mani karena hal-hal sengaja seperti ini menyebabkan puasa batal.

Baca Artikel Lainya:
4 Manfaat Bertaubat Untuk Menghadapi Ramadhan

4. Merokok

Merokok tidak hanya membatalkan puasa karena kadar zat-zat aditif yang dikandungnya saja, tetapi juga karena hawa nafsu yang tak bisa dikekang membuat kegiatan merokok ini membatalkan puasa yang sedang dijalankan.

Bukankah tujuan berpuasa salah satunya menahan diri dari hawa nafsu?

Nah, asap rokok yang sengaja dihisap akan membatalkan puasa, namun hukumnya berbeda dengan asap uap makanan yang kita hirup yang tidak membatalkan puasa.

5. Hubungan suami istri di hari Ramadhan

Jika hubungan suami istri dilakukan pada malam hari Ramadhan, maka diperbolehkan, akan tetapi jika dilakukan setelah waktu Shubuh di bulan Ramadhan, maka bisa dipastikan pelakunya melakukan perbuatan yang membatalkan puasa dan berdosa karena melakukan hal tersebut sama saja menodai kemuliaan bulan suci Ramadhan.

Sahabat, sejatinya bulan Ramadhan merupakan bulan pengendalian diri, banyak hal yang hukum aslinya halal, namun berubah menjadi haram saat bulan Ramadhan.

Contohnya makan nasi, tentu saja makan nasi itu halal, namun di siang hari Ramadhan kegiatan makan nasi menjadi sesuatu yang haram hukumnya.

Belajar mengendalikan diri dan hawa nafsu saat Ramadhan, insya Allah kita bisa keluar sebagai pemenang di bulan suci mulia ini.

Buka Puasa Bersama? Bagaimana Hukumnya Menurut Islam

Buka Puasa Bersama? Bagaimana Hukumnya Menurut Islam

Buka Puasa Bersama

Sahabat, banyak agenda buka puasa bersama di bulan Ramadhan ini? Ada bukber teman-teman SD, bukber teman-teman kampus, bukber teman kantor, bukber keluarga, waaah … hampir setiap hari sibuk bukber pokoknya.

Hmm, sudah tahu belum bagaimana sih pandangan Islam soal bukber alias buka bersama seperti ini? Apakah diperbolehkan, atau jangan-jangan diharamkan?

Yuk, simak info selengkapnya!

Hukum Buka Puasa Bersama dalam Islam

 “…Tidak ada halangan bagi kamu makan bersama-sama mereka atau sendirian…” (QS. An Nur: 61)

Alhamdulillah, Sahabat … ternyata buka puasa bersama di bulan Ramadhan hukumnya diperbolehkan dalam Islam, namun dengan adanya catatan-catatan yang harus diperhatikan.

1. Sebaiknya dilakukan untuk puasa Ramadhan saja (bukan puasa sunah)

Mengapa demikian?

Ya, karena jika buka puasa bersama dilakukan untuk puasa sunah dikhawatirkan terkontaminasi penyakit hati seperti riya’ alias pamer.

Sedangkan untuk puasa Ramadhan, karena hukumnya wajib, tentu saja tidak menjadi persoalan jika dilakukan buka puasa bersama dengan berbagai pihak (keluarga, teman, kolega, dll).

2. Bukber tidak mengganggu pelaksanaan shalat

Banyak event buka puasa bersama yang justru melalaikan pelaksanaan shalat, baik shalat Maghrib, Isya maupun Tarawih.

Nah, perlu diatur waktu atau agenda … sebisa mungkin sebelum makan besar seluruh anggota bukber sudah melaksanakan shalat Maghrib. Carilah tempat bukber yang memungkinkan untuk pelaksanaan shalat berjamaah secara mudah.

3. Tidak menghabiskan waktu untuk mengghibah atau mengobrol yang sia-sia

Banyak event bukber reunian yang justru berubah jadi ajang curhat dan ghibah, ini harus dijaga agar tidak menggerus pahala puasa yang telah dilakukan.

4. Tidak melalaikan dari membaca al Quran

Target khatam 30 juz Al Quran jangan sampai tak tercapai hanya karena kebanyakan agenda buka puasa bersama. Karena sebenarnya bulan suci Ramadhan merupakan waktu terbaik untuk mendekatkan diri pada Allah dan memperbanyak tilawah Quran.

5. Menjaga tidak adanya ikhtilat (campur baur laki-laki dan perempuan yang bukan mahrom)

Guna menjaga diri dari fitnah, pastikanlah acara bukber yang diselenggarakan tidak ada ikhtilat (pencampuran laki-laki dan perempuan) di dalamnya.

Hadist tentang Buka Puasa Bersama

“Para sahabat Nabi Muhammad SAW bertanya, ‘mengapa makan tidak kenyang?’ Kemudian, Nabi balik bertanya, ‘Apa kalian makan sendiri?’ Para sahabat menjawab, ‘iya'” (HR Abu Dawud).

Kemudian Rosulullah SAW menjawab lagi, “Makanlah kalian bersama-sama dan bacalah basmalah, maka Allah akan memberikan berkah kepada kalian semua.”

Jelas bahwa Rasulullah SAW. menganjurkan makan bersama-sama untuk menambah keberkahan.

Hikmah Berbuka Puasa Bersama

Beberapa hikmah diadakannya buka puasa bersama antara lain:

1. Menambah keakraban dan rasa persaudaraan antar sesama muslim

Dengan melakukan pertemuan dan makan bersama, sudah pasti akan mendatangkan efek jalinan keakraban di antara orang-orang yang menjalankan agenda buka puasa bersama.

2. Menambah keberkahan

Sebagaimana hadits Rasulullah SAW. mengenai makan bersama-sama dengan membaca basmallah akan membawa keberkahan, maka demikianlah buka puasa bersama insya Allah dapat berlimpah sedekah.

3. Menjalin silaturahim

Sering kali karena kesibukan masing-masing, menjadikan kita semakin jarang berkomunikasi intens dengan teman, rekan, sahabat, atau keluarga besar, oleh sebab itu kehadiran agenda bukber merupakan ajang untuk menjalin kembali tali silaturahin.

Demikianlah Sahabat pembahasan seputar buka puasa bersama di bulan Ramadhan, semoga bermanfaat dan mudah dipraktikkan.

Artikel Terkait :
Keutamaan Memberi Makan Berbuka Puasa Anak Yatim

===================================================

Yuk turut sediakan makanan berbuka untuk yatim & dhuafa

Salurkan SEDEKAH TERBAIK sahabat untuk buka puasa 99 santri penghafal quran Yatim Seribu Pulau

sedekah Sekarang

Infak dan Sedekah : Pengertian, Manfaat, Hikmah & Cara Melakukan

Infak dan Sedekah : Pengertian, Manfaat, Hikmah & Cara Melakukan

Infak dan Sedekah

Sahabat, tahukah bahwa orang yang gemar berinfak dan bersedekah akan terhindar dari bala bencana, dari sifat-sifat buruk penyakit hati, siksa kubur, bahkan dijauhkan pula dari panas api neraka? Begitu dahsyatnya infak dan sedekah, bahkan dianjurkan untuk dilakukan setiap hari.

“Sesungguhnya sedekahnya orang muslim itu dapat menambah umurnya, dapat mencegah kematian yang buruk, Allah akan menghilangkan darinya sifat sombong, kefakiran dan sifat bangga pada diri sendiri.”(HR. Thabrani).

Beda Infak dan Sedekah

Infak dan sedekah sama-sama merupakan pemberian untuk orang lain, lalu apa yang membedakan kedua istilah ini?

Secara sederhana, bentuk infak sudah pasti berupa harta, yang diberikan pada kaum fakir yang membutuhkan. Sedangkan sedekah bisa berbentuk non harta, yakni segala jenis kebaikan yang kita lakukan untuk orang lain.

Manfaat Infak dan Sedekah

Manfaat infak dan sedekah ada sangat banyak dan dahsyat keseluruhannya, tidak ada hal yang buruk ketika seseorang menginfakkan hartanya dan menyedekahkan kebaikannya untuk orang lain, bahkan sekalipun bersedekah pada binatang, Allah akan membalasnya dengan ganjaran berlipat ganda.

Berikut ini 3 manfaat infak dan sedekah yang harus diketahui:

1. Menjadi manusia beruntung

Siapa yang tidak mau menjadi orang beruntung? Semua orang pasti lebih memilih menjadi orang beruntung daripada menjadi orang yang malang.

Nah, orang beruntung versi al Quran salah satunya adalah orang yang terjaga dari sifat pelit dirinya sendiri, yakni dengan bersedia menginfakkan sebagian hartanya.

“Maka bertakwalah kamu kepada Allah menurut kesanggupanmu dan dengarlah serta taatlah; dan infakkanlah harta yang baik untuk dirimu. Dan barangsiapa menjaga dirinya dari kekikiran, mereka itulah orang-orang yang beruntung.” (Q.S. At Taghabun: 16)

Mengapa disebut beruntung jika kita terjaga dari sifat

Kikir? Ya, karena sesungguhnya kekikiran tidak hanya dibenci oleh manusia namun juga oleh Allah, maka orang kikir tidak akan disukai di dunia maupun di akhirat, malang sekali bukan?

Sebaliknya, seorang yang dermawan, gemar berinfak, akan disenangi sesama manusia dan juga dicintai Allah.

2. Mendapatkan balasan berlipat ganda

Faktanya, setiap pemberian infak berupa uang atau barang, tidak hanya mendapat ganjaran di akhirat kelak namun juga ganjaran selama masih hidup.

“Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir seratus biji. Allah melipat gandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui.” (Q.S. Al Baqarah 261)

3. Mendapatkan ketenangan hati

Orang yang gemar berinfak insya Allah hidupnya lapang dan tenang, tidak ada rasa khawatir apalagi bersedih hati, sebagaimana yang disebutkan dalam Al Quran:

“Orang yang menafkahkan hartanya di malam dan di siang secara sembunyi-sembunyi dan terang-terangan, maka mereka mendapat pahala di sisi Rabbnya. Tidak ada kekhawatiran atas mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati.” (QS. Al Baqarah 274)

Hikmah Infak dan Sedekah

Adapun hikmah dari infak dan sedekah yang kita berikan untuk orang lain setidaknya ada 3 hal:

1. Menjalin kasih sayang antara si kaya dan miskin

Andaikan orang-orang kaya tak mau peduli dan enggan berinfak sedekah, maka tentulah kemarahan orang-orang miskin bisa menjadi liar dan tak terbendung, bisa terjadi chaos karena tajamnya perbedaan hidup si kaya dan miskin.

Namun dikarenakan orang-orang kaya mau menyadari bahwa ada hak orang miskin dalam sebagian harta mereka, serta bersedia berinfak juga bersedekah, sehingga terjalin kasih sayang yang menjembatani jurang perbedaan si kaya dan miskin.

Hikmah infak dan sedekah dalam hubungan antar masyarakat menjadi sangat luar biasa, bahwasanya dengan adanya infak dan sedekah … kondisi mayarakat menjadi harmoni.

2. Menyadari bahwa kekayaan dan kemiskinan hanyalah ujian

Kaya dan miskin bukanlah hasil reward atau punishment dari Tuhan, melainkan sama-sama soal ujian.

Tidak benar jika menganggap kekayaan adalah hadiah dari Tuhan, sedangkan kemiskinan adalah hukuman dari Tuhan. Yang benar adalah fakta bahwa kaya dan miskin sama-sama ujian kehidupan bagi orang beriman.

Yang akan lulus dari ujian ini adalah orang-orang yang tetap bisa mendekat pada Allah di segala keadaan, baik lapang maupun sempit.

3. Memahami bahwa perbuatan baik akan kembali pada diri kita sendiri

Ketika kita berinfak untuk orang lain, sebenarnya infak tersebut akan kembali kebaikannya untuk diri kita sendiri. Demikian juga ketika kita menahan infak/sedekah, kita bersikap kikir, sesungguhnya kekikiran itu akan berbalik mengenai diri kita sendiri.

Jadi pilihlah berbuat kebaikan daripada sebaliknya.

Cara Infak dan Sedekah

Cara melakukan infak dan sedekah ada berbagai pilihan, di antaranya:

1. Memberi infak sedekah secara langsung untuk penerima manfaat

Misalnya kita melihat ada orang yang sedang kesulitan dan butuh bantuan, kita bisa langsung memberikan infak dan sedekah pada orang tersebut.

Kelemahannya adalah kita tidak bisa memverifikasi apakah orang tersebut benar-benar seorang penerima manfaat yang sebenarnya atau hanya tipuan semata.

Begitu banyak orang yang sebenarnya secara finansial baik-baik saja, namun profesinya memang sebagai pengemis sehingga hal ini membuatnya pandai bersandiwara mengobok-obok perasaan orang lain agar terhanyut dan memberikan bantuan.

2. Mempercayakan infak dan sedekah kepada lembaga sosial kemanusiaan

Lembaga sosial kemanusiaan biasanya memiliki banyak program kebaikan, dari mulai pembangunan sarana dan prasarana, program untuk anak yatim, program untuk bantuan kemanusiaan seperti membantu bencana alam, juga program pendidikan dan kesehatan.

Setiap program memiliki penerima manfaat masing-masing yang sudah terverifikasi kelayakannya. Maka mengamanahkan infak sedekah kepada lembaga sosial kemanusiaan juga menjadi pilihan yang bijak untuk bersedekah yang aman.

Demikianlah penjelasan mengenai Infak dan Sedekah semoga bermanfaat.

Hikmah Zakat Untuk Muzakki dan Mustahik

Hikmah Zakat Untuk Muzakki dan Mustahik

hikmah zakat

Berbeda dengan infak dan sedekah, zakat itu wajib hukumnya ya Sahabat. Bahkan di zaman Abu Bakar ra. dahulu, orang-orang yang menolak membayar zakat akan langsung diperangi lho! Karena menolak bayar zakat sama dengan menantang aturan Allah dan Rasul-Nya.

Abu Bakar mengingatkan kaum muslimin bahwa shalat dan zakat adalah satu kesatuan yang tak boleh dipisahkan. Shalat merupakan wujud hablumminallah (hubungan manusia dengan Allah), sedangkan zakat merupakan wujud hablumminannaas (hubungan antar sesama manusia).

Coba perhatikan … dalam ayat-ayat Al qur’an sendiri, kata ‘mendirikan shalat’ senantiasa diiringi dengan kata ‘menunaikan zakat‘. Persis seperti ‘saudara kembar’ yang selalu muncul bersamaan. Oleh sebab itu, nyaris tidak mungkin seorang mengaku muslim, namun tak mau mengerjakan shalat dan tak bersedia menunaikan zakat.

Pengertian Muzakki dan Mustahik

Kalau membicarakan zakat, sudahlah pasti ada 2 istilah yang harus dipahami, yakni Muzakki dan Mustahik. Apakah itu?

Muzaki merupakan sebutan bagi orang yang wajib membayar zakat. Sebaliknya, mustahik merupakan sebutan bagi orang yang berhak mendapatkan zakat. Baik Muzaki maupun mustahik sama-sama memiliki syarat dan ketentuan berlaku.

Syarat Menjadi Muzakki

Tidak semua orang beruntung bisa menjadi seorang muzaki yang wajib bayar zakat, karena ada 2 syarat dan ketentuan yang harus dipenuhi terlebih dahulu:

1. Nisab harta

Kita baru bisa menjadi seorang muzaki jika jumlah harta yang kita miliki mencapai nisab, yakni jumlah minimal harta.

Untuk zakat mal (harta), jumlah nisab minimal adalah 85 gram emas, kira-kira Rp 83juta. Jika harta yang kita miliki tak sampai 83 juta, maka kita belum bisa menjadi muzaki. Menantang, bukan?!

2. Haul (waktu kepemilikan harta = 1 tahun)

Bukan hanya jumlah minimal harta, untuk menjadi muzaki juga harus memperhatikan waktu kepemilikan harta tersebut, yakni harus mencapai satu tahun (haul).

Misalkan seseorang memiliki harta senilai Rp 100 juta, tapi harta tersebut habis dalam waktu 10 bulan saja, maka orang ini bukanlah seorang muzaki karena tidak mencapai haul 1 tahun.

Jelas bahwa aturan Islam untuk zakat hanyalah diwajibkan bagi seseorang yang benar-benar memiliki harta dalam jumlah besar dan menguasai harta tersebut dalam waktu satu tahun.

Syarat Mustahik

Untuk menjadi mustahik, seseorang harus memastikan dirinya termasuk dalam 8 golongan berikut:

1. Fakir

seseorang yang tak memiliki apa pun, dan tidak mampu memenuhi kebutuhan dasar untuk hidupnya.

2. Miskin

Seseorang yang memiliki harta atau penghasilan, tapi belum cukup untuk memenuhi kebutuhan pokoknya dan keluarga

3. Ibnu Sabil

Seseorang yang kehabisan biaya di saat melakukan perjalanan jauh (musafir)

4. Fii Sabilillah

Seseorang yang berjuang di jalan Allah misalnya pendakwah di pedalaman hutan, dan lain sebagainya

5. Mualaf

Seseorang yang baru masuk Islam dan membutuhkan bantuan untuk menguatkan tauhidnya

6. Amil

Seseorang atau sekelompok orang yang bertugas mengumpulkan zakat dan mendistribusikannya

7. Gharimin

Seseorang yang berutang untuk memenuhi kebutuhan pokok hidupnya

8. Hamba Sahaya

Budak yang ingin memerdekakan dirinya

Hikmah Zakat bagi Muzakki

Banyak sekali pastinya hikmah zakat bagi muzaki, berikut beberapa di antaranya:

1. Membersihkan harta

“Tidaklah zakat (yang belum ditunaikan) itu bercampur dengan harta yang lain, kecuali ia akan merusakkan harta lainnya.” (H.R. al-Bazzar)

Ibarat sepanci besar susu terkena cipratan air comberan, apakah kita masih mau memberi sepanci susu itu untuk diminum anggota keluarga kita? Kemungkinan tidak, kita akan membuangnya.

Demikianlah harta yang tidak dikeluarkan zakatnya, mengotori keseluruhan harta tersebut.

2. Mensucikan hati dari penyakit hati (sombong, rakus, pelit)

Harta bisa menjadi sarana seseorang berbangga diri, memandang rendah orang lain yang hartanya lebih sedikit, bersikap tamak dan juga kikir.

Nah, dengan mengeluarkan zakat insya Allah bisa menghancurkan sifat buruk penyakit tersebut.

3. Menjauhkan diri dari sifat tercela pada kaum fakir

Betapa banyak orang kaya namun malah berbuat zalim pada kaum dhuafa, misalnya dengan menghina, berbuat semena-mena, dan melakukan hal tak patut lainnya.

Dengan mengeluarkan zakat yang peruntukkannya bagi kaum fakir, mudah-mudahan Allah menjauhkan kita dari kezaliman diri sendiri terhadap orang lain.

4. Mendapat keberkahan dari Allah

Takkan berkurang harta yang dikeluarkan zakat dan sedekahnya, justru akan bertambah karena limpahan berkah dari Allah.

Betapa banyak orang yang merasakan keberkahan harta setelah dikeluarkan zakatnya.

5. Meninggikan derajat di hadapan Allah dan juga di hadapan manusia

Dengan berzakat, derajat kita di hadapan Allah akan naik, karena kita mematuhi perintahNya. Demikian juga di hadapan manusia, derajat kita naik karena bersedia membantu sesama.

Hikmah Zakat bagi Mustahik

Adapun bagi para mustahik penerima zakat, hikmah zakat sungguh amat banyak, antara lain:

1. Membantu persoalan ekonomi penerima manfaat

Dalam kitab Al-Fiqih Al Islami wa Adilatuhu disebutkan bahwa zakat dapat membantu orang-orang fakir dan orang-orang yang membutuhkan dukungan untuk berikhtiar membuka lapangan pekerjaan sendiri dengan dana zakat yang diberikan.

Ibarat memberikan kail dan pancingan bagi orang yang suka makan ikan namun tak punya uang.

2. Mempererat tali silaturahmi dengan si kaya

Jurang perbedaan antara si kaya dan si miskin bisa memperkeruh kondisi sosial masyarakat, namun zakat bisa mengubah hal ini karena zakat bisa menjalin persaudaraan antara si kaya dan si miskin.

3. Menjauhkan diri dari sifat tercela seperti iri dan prasangka buruk pada si kaya

Pencurian, perampokan, pembegalan, salah satunya terjadi karena adanya rasa iri dari pihak ‘si miskin’ kepada ‘si kaya’. Perasaan tidak adil, dengki, dapat menghasut si miskin untuk berbuat hal tercela yang memperburuk kondisi masyarakat.

Zakat yang disalurkan dengan tepat untuk para mustahik insya Allah bisa menghapus hal-hal buruk dalam masyarakat.

Demikianlah beberapa hikmah zakat, baik bagi muzaki maupun mustahik, semoga menginspirasi kebaikan.

==================================

Yuk bayar ZAKAT MU di sini, dengan klik tombol di bawah ini :

Bayar Sekarang

Dapat THR? Begini Cara Bijak Mengelolanya

Dapat THR? Begini Cara Bijak Mengelolanya

Dapat THR? Begini Cara Bijak Mengelolanya

Bagi banyak orang, uang THR sering habis tak berbekas, apa yang salah? Inilah 4 langkah bijak mengelola dana Tunjangan Hari Raya.

Tunjangan Hari Raya (THR) merupakan salah satu bonus membahagiakan yang biasanya didapat oleh para pekerja saat bulan Ramadhan. Anehnya, bagi banyak orang, uang THR ini sering habis tak bersisa dan bahkan terasa kurang begitu Hari Raya telah berakhir. Apa yang salah ya?

Bagi Sahabat yang mendapat THR, ketahui cara bijak kelola uang Tunjangan Hari Raya agar bertambah keberkahan. Ini dia yang perlu diperhatikan:

Keluarkan zakat

Baik zakat mal maupun zakat fitrah, perlu dipastikan sebagai prioritas pertama yang harus dikeluarkan begitu THR diterima.

Zakat berfungsi sebagai pembersih harta, jika zakat tidak dikeluarkan, maka keseluruhan harta kita akan ‘kotor’, akibatnya sungguh fatal.

Ibarat air susu yang kemasukan seekor lalat, maukah meminum susu tersebut? Tentu tidak ya! Lantas, mengapa kita mau memakai harta yang kotor untuk kebutuhan keluarga? Bersihkanlah terlebih dulu dengan zakat.

“Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan dan menyucikan mereka.” (Q.S. At Taubah: 10)

Selain zakat mal, sisihkan juga THR untuk zakat fitrah, karena zakat fitrah akan membersihkan diri kita dari dosa-dosa yang mungkin masih kita kerjakan saat berpuasa.

“Zakat Fitrah merupakan pembersih bagi yang berpuasa dari hal-hal yang tidak bermanfaat dan kata-kata keji (yang dikerjakan waktu puasa) , dan bantuan makanan untuk para fakir miskin.” (Hadits Hasan Riwayat Abu Daud)

Buat daftar prioritas

Perkirakan berapa jumlah THR yang akan kita terima, lalu susunlah daftar prioritas kebutuhan yang perlu dipenuhi.

Mulailah dari utang terlebih dahulu. Adakah utang yang harus diselesaikan? Jika utang yang dimiliki ada banyak, susun list prioritas yang mana paling urgent dan mendesak.

Misalnya ada utang cicilan mobil dan ada utang ke kerabat, tentukan mana yang lebih urgent dan mendesak saat ini untuk dibayarkan terlebih dulu.

Setelah utang, prioritas selanjutnya adalah membayar kewajiban pada orang-orang yang menjadi tanggungan kita, misalkan pembantu rumah tangga, staf karyawan, atau pekerja yang selama ini membantu kita. Pastikan kita menyisihkan uang THR untuk membayar pula THR para pekerja kita.

Bagaimana dengan baju lebaran, kue, sepatu dan dana mudik?

Jika tidak mendesak, dalam artian baju masih layak, sepatu masih ada, keluarga di kampung bisa memahami kondisi … maka kebutuhan pakaian, kue, dan mudik ini adalah prioritas skala bawah. Boleh dilakukan jika dana masih ada.

Apabila dana THR pas-pasan, lebih baik di-skip saja.

Sisihkan untuk dana cadangan

Hal penting yang perlu diingat dalam mengelola dana THR adalah sisihkan dana cadangan atau dana darurat. Besarnya tergantung dana THR yang kita peroleh, kisaran 10-30%.

Biasanya waktu setelah lebaran adalah saat-saat krusial, karena banyak orang ‘berfoya-foya’ membelanjakan uang untuk hari raya, setelah itu dana telah habis hingga jadwal gajian bulan selanjutnya. Nah, dana cadangan ini berfungsi untuk mengcover kebutuhan

Sedekah sebagai pancingan rezeki

Sebagaimana pompa air yang sering kali memerlukan pancingan air segayung agar mengeluarkan air berember-ember, demikian juga kedatangan rezeki kita perlu dipancing dengan sedekah.

Selain itu, sedekah bisa juga menjadi asuransi langit yang menghindarkan kita dan keluarga dari bala bencana. Oleh sebab itu, penting memastikan sedekah dikeluarkan dari sebagian dana THR kita, besarannya kisaran 5%-10% minimal.

Dengan mengeluarkan sedekah, insya Allah rezeki THR yang kita peroleh pun bertambah berkah.

Demikian 4 langkah bijak mengelola THR, Mudah-mudahan bermanfaat dan menginspirasi untuk dipraktikkan.

====================================================

Bingung mau sedekah kemana? Yuk tekan tombol di bawah ini :

sedekah Sekarang