Cara Mengendalikan Hawa Nafsu Menurut Islam

Cara Mengendalikan Hawa Nafsu Menurut Islam

Cara Mengendalikan Hawa Nafsu Menurut Islam

Sahabat, apakah hawa nafsu perlu dihilangkan? Yap, tidak perlu! Faktanya, hawa nafsu amat  dibutuhkan dalam kehidupan ini, hanya saja kita perlu mengetahui cara mengendalikannya.

Hawa nafsu itu ibarat api, jika hanya sebesar api tungku atau kompor … tentu amat bermanfaat untuk memasak, menghangatkan ruangan, namun jika api membesar hingga bisa melalap gedung bangunan, nah … inilah yang membahayakan.

Begitu pula hawa nafsu dalam hidup kita, tentu amat diperlukan agar kita bisa menikmati makanan lezat, agar pasangan suami istri bisa memiliki keturunan, agar manusia bisa memiliki passion dalam karir dan finansial.

Akan tetapi, hawa nafsu berubah membahayakan jika lebih dari kadar yang seharusnya, semestinya manusia lah yang mampu mengendalikan hawa nafsu, tapi faktanya … begitu banyak hawa nafsu yang mengendalikan manusia.

Dalam Islam, ada beberapa cara dalam mengendalikan hawa nafsu. Yuk simak pembahasannya satu per satu.

Pengertian Nafsu Menurut Al Qur’an

 “Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (surga)”. (Q.S. Ali Imran:14)

Dari ayat di atas kita bisa memahami bahwa Allah menjadikan banyak hal sebagai sesuatu yang indah bagi manusia, jadi wajar sekali jika kita sebagai manusia menyukai dan bernafsu pada hal-hal yang Allah sebutkan dalam ayat tersebut: Wanita, anak-anak, harta, emas, perak, kendaraan, dan sawah ladang.

Namun, tantangannya adalah jangan sampai keinginan serta hawa nafsu yang kita miliki tersebut justru memperbudak diri kita. Simak firman Allah dalam ayat lainnya:

“Maka pernahkah kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya dan Allah membiarkannya sesat dengan sepengetahuan-Nya, dan Allah telah mengunci pendengaran dan hatinya serta meletakkan tutup atas penglihatannya? Maka siapa yang mampu memberinya petunjuk setelah Allah (membiarkannya sesat?) Mengapa kamu tidak mengambil pelajaran?” (Q.S. Al Jatsiyah: 23)

Dalam Quran ada cukup banyak pembahasan mengenai manusia yang diperbudak oleh hawa nafsu dan kedudukan manusia yang seperti ini lebih hina dari binatang ternak.

Maka, tugas kita adalah bagaimana menempatkan hawa nafsu dengan tepat sesuai proporsinya.

Apakah Nafsu Bisa Dihilangkan?

Bisa saja, misalnya ada beberapa manusia yang mengebiri dirinya sendiri agar tidak memiliki syafwat terhadap hubungan seksual. Akan tetapi Allah menciptakan hawa nafsu bukan untuk dihilangkan. Sehingga hal-hal seperti kebiri justru diharamkan dalam Islam.

Islam tidak mengajarkan umatnya untuk menghilangkan nafsu, melainkan belajar mengendalikannya.

Apakah Nafsu Itu Dosa?

“Dan aku tidak membebaskan diriku (dari kesalahan), karena sesungguhnya nafsu itu selalu menyuruh kepada kejahatan, kecuali nafsu yang diberi rahmat oleh Tuhanku. Sesungguhnya Tuhanku Maha Pengampun lagi Maha Penyanyang.” (QS Yusuf: 53)

Nafsu itu sendiri merupakan sesuatu yang dibutuhkan oleh manusia. Bayangkan jika kita tak punya nafsu makan, selapar apapun rasanya tidak mau makan sama sekali, memaksakan diri makan pun rasanya tidak nikmat. Atau, bagaimana jika kita tak memiliki nafsu terhadap harta? Rasanya hidup menggembel di pinggir jalan tidak apa-apa, tidak ada gairah hidup.

Maka, nafsu itu sendiri merupakan kebutuhan manusia agar hidup bisa berjalan dengan normal, manusia bisa beranak-pinak. Sayangnya, banyak manusia yang hidup dengan mempertuhankan nafsunya.

Makan sederhana saja bisa kenyang, tapi ia lebih memilih makan di tempat berpuluh kilometer jauhnya hanya untuk wisata kuliner, memanjakan nafsu syahwat di bidang makanan.

Punya gaji sekian juta sebenarnya sudah cukup, tapi karena nafsu akan harta dan kuasa, manusia menjadi tamak menimbun uang hingga bermilyar Rupiah dan tidak rela ia sedekahkan.

Maka, yang membawa dosa adalah ketidakmampuan kita mengendalikan nafsu, bukan nafsu itu sendiri. Ketika misalnya seorang suami bernafsu pada istrinya sendiri, ini bukanlah hal buruk, akan tetapi jika suami memperturutkan nafsunya dengan menyakiti istrinya, nah inilah yang membawa pada kondisi berdosa.

Punya nafsu makan itu bagus sekali, namun menjadi buruk ketika kita berlebihan dalam memperturutkan nafsu makan tersebut, misalnya makan sepuluh porsi sekali makan. Bukankah bahaya untuk lambung dan usus kita? Inilah yang bisa membawa pada dosa, ketika menyebabkan diri sendiri sakit karena tak mampu mengendalikan nafsu.

Faktanya, memperturutkan hawa nafsu takkan pernah memuaskan diri kita. Mengendalikan hawa nafsulah yang justru akan membuat kita kuat dan puas karena bisa menjadikan nafsu sebagai budak yang kita tawan.

Apakah Hanya Orang Beriman yang Dapat Mengendalikan Nafsunya?

Salah satu ciri orang beriman adalah bisa mengendalikan nafsu, karena ia paham ada Allah dan malaikat yang selalu mengawasinya.

Selain itu, orang beriman juga membatasi dirinya dengan ketaqwaan, yakni perintah dan larangan Tuhan yang akan selalu menjadi pedoman hidupnya

Jika ada orang mengaku beriman namun tak bisa mengendalikan nafsu amarah, nafsu syahwat, nafsu akan harta dan kekuasaan, bisa dipastikan keimanannya bermasalah.

 “Tidak beriman seseorang sampai hawa nafsunya ia tundukkan demi mengikuti apa yang aku bawa” (HR. At-Thabrani)

Cara Mengendalikan Hawa Nafsu

“Musuhmu yang paling berbahaya adalah hawa nafsu yang ada di antara lambungmu, anakmu yang keluar dari tulang rusukmu, istrimu yang kamu gauli, dan sesuatu yang kamu miliki.” (HR Al Baihaqi)

Berikut beberapa cara mengendalikan hawa nafsu dalam Islam:

1. Berpuasa

Dalam Islam, salah satu cara terbaik mengendalikan hawa nafsu adalah dengan berpuasa. Ketika berpuasa, bukan hanya nafsu makan dan minum yang ditahan, melainkan juga nafsu seksual, nafsu amarah, nafsu bergosip, dan nafsu yang mengarahkan pada hal buruk lainnya.

Efeknya untuk hidup seseorang, berpuasa akan menyebabkan ia mampu menjadikan hawa nafsu sebagai budaknya.

2. Jihad melawan dominasi nafsu

 “Mukmin yang paling utama adalah umat yang selamat dari keburukan lisan dan tangannya. Mukmin paling utama keimanannya adalah yang paling baik perilakunya. Muhajirin paling utama adalah orang yang meninggalkan larangan Allah. Jihad paling utama adalah jihad melawan nafsu sendiri karena Allah.” (HR. Ahmad, Al Tirmidzi, dan Abu Dawud)

3. Mengubah posisi badan ketika nafsu marah menguasaih

“Apabila kalian marah, dan dia dalam posisi berdiri, hendaknya dia duduk. Karena dengan itu marahnya bisa hilang. Jika belum juga hilang, hendak dia mengambil posisi tidur.” (HR. Ahmad)

Jika amarah belum juga hilang, maka disarankan untuk berwudhu dengan air yang mengalir. Jangan pernah memperturutkan nafsu karena akan meninggalkan penyesalan.

Demikianlah beberapa penjelasan mengenai hawa nafsu dan alasan mengapa kita perlu belajar mengendalikannya. Semoga Allah merahmati kita dengan kemampuan mengendalikan nafsu karena-Nya.

5 Adab pada Orangtua yang Mulai Dilupakan

5 Adab pada Orangtua yang Mulai Dilupakan

Zaman sekarang, banyak anak dan remaja yang mulai melupakan adab kesopanan pada orangtuanya ataupun pada orang yang lebih tua secara usia dari mereka. Padahal adab sangat penting dijaga.

Mari Sahabat kita mengingat kembali dan ajarkan pada anak-anak kkta, ketika berhadapan dengan orangtua maupun orang yang secara usia lebih tua, ada adab yang harus diperhatikan.

Jangan sampai diterabas, karena Rasulullah shalallahu alaihi wasallam dan para sahabat pun telah mencontohkan:

  1. Berbicara sopan dengan intonasi yang rendah

“Maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan “ah”.” (QS. Al Isro’ [17] : 23)

Perkataan “ah” saja tidak diperbolehkan, apalagi jika membentak orangtua, bahkan dengan orang yang dituakan dan dihormati pun kita perlu merendahkan suara juga di hadapannya.

“Jika para sahabat berbicara dengan Rasulullah, mereka merendahkan suara mereka dan mereka tidak memandang tajam sebagai bentuk pengagungan terhadap Rasulullah” (HR. Al Bukhari 2731)

  1. Tidak bersikap arogan atau sok tahu

Sekalipun kita benar dan mengetahui jawaban yang benar, ternyata penting untuk menahan diri ketika berhadapan dengan orang yang lebih tua. Sebisa mungkin memilih kata agar mereka tidak tersinggung atau pilihlah diam.

“Kami pernah bersama Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam di Jummar, kemudian Nabi bersabda: ‘Ada sebuah pohon yang ia merupakan permisalan seorang Muslim’. Ibnu Umar berkata: ‘sebetulnya aku ingin menjawab: pohon kurma. Namun karena aku yang paling muda di sini maka aku diam’. Lalu Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam pun memberi tahu jawabannya (kepada orang-orang): ‘ia adalah pohon kurma’” (HR. Al Bukhari 82, Muslim 2811).

  1. Senantiasa mendahulukan kepentingan orangtua

Ini adalah potongan kisah 3 pemuda yang terjebak di dalam goa karena pintu goa tertutup batu besar, mereka menyebutkan amalan-amalan unggulan yang mereka lakukan agar Allah menyelamatkan mereka dari goa tersebut. Salah satu pemuda itu menyebutkan bahwa dirinya selalu mendahulukan orangtuanya:

“Ya Allah sesungguhnya saya memiliki orang tua yang sudah tua renta, dan saya juga memiliki istri dan anak perempuan yang aku beri mereka makan dari mengembala ternak. Ketika selesai menggembala, aku perahkan susu untuk mereka. Aku selalu dahulukan orang tuaku sebelum keluargaku. Lalu suatu hari ketika panen aku harus pergi jauh, dan aku tidak pulang kecuali sudah sangat sore, dan aku dapati orang tuaku sudah tidur. Lalu aku perahkan untuk mereka susu sebagaimana biasanya, lalu aku bawakan bejana berisi susu itu kepada mereka. Aku berdiri di sisi mereka, tapi aku enggan untuk membangunkan mereka. Dan aku pun enggan memberi susu pada anak perempuanku sebelum orang tuaku. Padahal anakku sudah meronta-ronta di kakiku karena kelaparan. Dan demikianlah terus keadaannya hingga terbit fajar. Ya Allah jika Engkau tahu aku melakukan hal itu demi mengharap wajahMu, maka bukalah celah bagi kami yang kami bisa melihat langit dari situ. Maka Allah pun membukakan sedikit celah yang membuat mereka bisa melihat langit darinya“.

  1. Meminta doa pada orangtua ketika memiliki hajat

“Wahai ayah kami, mohonkanlah ampun bagi kami terhadap dosa-dosa kami, sesungguhnya kami adalah orang-orang yang bersalah (berdosa)“. (QS. Yusuf [12] : 97)

  1. Menyadari bahwa harta kita adalah milik orangtua, tidak bersikap pelit terhadap orangtua

“Wahai Rasulullah sesungguhnya aku mempunyai harta dan anak, sedangkan bapakku ingin menghabiskan hartaku.” Maka beliau bersabda, “Engkau dan hartamu adalah milik bapakmu. (H.R.Ibnu Majah)

Sahabat, semoga kita senantiasa ingat beberapa adab ini ketika bergaul dengan orangtua maupun orang yang lebih tua secara usia. Mudah-mudahan Allah melimpahkan rahmatnya pada kita.

===

Ingin menjadi orang tua asuh santri penghafal Qur’an? Yuk KLIK DISINI

9 Adab Makan dalam Islam Berdasarkan Hadits

9 Adab Makan dalam Islam Berdasarkan Hadits

Adab makan dalam Islam – Sahabat dongeng ceria indonesia, salah satu pembeda manusia dengan binatang adalah adab. Binatang tidak memiliki adab, ia bisa melakukan apa yang diinginkannya tanpa aturan.

Sedangkan manusia memiliki berbagai aturan dalam melakukan segala sesuatu, agar apa yang dilakukannya bisa bernilai ibadah dan tidak menzalimi orang lain.

Oke, yuk kita cek apa saja sih adab makan yang diajarkan oleh Rasulullah shalallahu alaihi wasallam.

  1. Pastikan makan makanan halal

Inilah adab makan yang terpenting, yaitu kita memperhatikan apa yang masuk ke perut kita. Jelas halal dan haramnya.

Jangan sampai atas nama tren, semua orang juga makan, kita akhirnya ikutan.

Selain zatnya harus halal, perlu juga diperhatikan cara mendapatkannya, yakni pekerjaan yang dilakukan. Pastikan pekerjaan yang kita lakukan pun halal.

“Hai orang-orang yang beriman, makanlah di antara rezeki yang baik-baik yang Kami berikan kepadamu…” [Al-Baqarah/2: 172]

  1. Tidak mencela makanan

Sekalipun kita tidak menyukai menu yang disajikan jangan sampai mencelanya dengan perkataan yang tidak baik.

“Ih, makanan apa nih ga enak banget!”

Lebih baik diam dan tinggalkan menu tersebut.

“Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak pernah mencela makanan, apabila beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam berselera, (menyukai makanan yang telah dihidangkan) beliau memakannya, sedangkan kalau tidak suka (tidak berselera), maka beliau meninggalkannya.” (HR Bukhari Muslim)

  1. Makan bersama-sama

Lebih baik lagi jika makan bersama-sama dan tidak sendirian, karena pada kebersamaan ada keberkahan.

“Berkumpullah kalian dalam menyantap makanan kalian (bersama-sama), (karena) di dalam makan bersama itu akan memberikan berkah kepada kalian.” [HR. Abu Dawud no. 3764, hasan. Lihat Silsilah al-Ahaadiits ash-Shahiihah no. 664]

  1. Membaca Basmallah

Ini sudah harus otomatis dilakukan, akan tetapi jika sampai terlupa… Maka bacalah Bismillah Awwalu wal akhiru, sebagaimana sabda Rasulullah shalallahu alaihi wasallam:

“Apabila salah seorang di antara kalian hendak makan, maka ucapkanlah: ‘Bismillaah’, dan jika ia lupa untuk mengucapkan bismillaah di awal makan, maka hendaklah ia mengucapkan: ‘Bismillaah awwaalahu wa aakhirahu’ (dengan menyebut Nama Allah di awal dan akhirnya).” (HR. Abu Daud, Tirmidzi)

  1. Memuji Allah setelah usai makan

Bayangkan… Kita tidak perlu menanam padi dan sayur-mayur, memupuk, menyiram tanaman hingga panen, tapi kita bisa langsung menyantap makanan begitu saja. Ini adalah nikmat Allah yang luar biasa, oleh sebab itu perlu kita syukuri dengan memuji-Nya.

“Barangsiapa sesudah selesai makan berdo’a: ‘Alhamdulillaahilladzi ath‘amani hadza wa razaqqaniihi min ghairi haulin minni walaa quwwatin (Segala puji bagi Allah yang telah memberi makanan ini kepadaku dan yang telah memberi rizki kepadaku tanpa daya dan kekuatanku),’ niscaya akan diampuni dosanya yang telah lalu.” (HR. Ibnu Majah)

  1. Makan dengan tangan kanan dan mulai dari makanan yang terdekat

Jangan makan dengan tangan kiri! Apapun kondisinya, baik sedang berkendara atau sedang sibuk, berusahalah untuk makan dengan tangan kanan. Kecuali jika kita memang tidak memilikinya (tangan kanan).

“Wahai anak muda, sebutlah Nama Allah (bismillaah), makanlah dengan tangan kananmu dan makanlah dari apa-apa yang dekat denganmu.” (HR. Bukhari Muslim)

  1. Makan hingga bersih tak bersisa

Ambil makanan seperlunya sehingga bisa kita habiskan, karena adab makan adalah membersihkan makanan bahkan yang menempel di jari jemari kita.

“Apabila salah seorang di antara kalian telah selesai makan, maka janganlah ia mengusap tangannya hingga ia menjilatinya atau minta dijilatkan (kepada isterinya, anaknya).” (HR. Bukhari Muslim)

  1. Jika ada yang terjatuh, ambil bersihkan dan makanlah

Jangan dibuang, jangan biarkan makanan jatuh menjadi milik syetan, apalagi kalau jatuhnya ke tempat yang bersih (lantai). Kalau jatuhnya ke tanah, sekalian saja berikan pada ayam atau kucing.

“Apabila ada sesuap makanan dari salah seorang di antara kalian terjatuh, maka hendaklah dia membersihkan bagiannya yang kotor, kemudian memakannya dan jangan meninggalkannya untuk syaitan.”
(HR. Muslim)

  1. Tidak berlebihan

Makanlah secukupnya, jangan berlebihan karena Allah tidak menyukai yang berlebihan.

“Tidak ada bejana yang diisi oleh manusia yang lebih buruk dari perutnya, cukuplah baginya memakan beberapa suapan sekedar dapat menegakkan tulang punggungnya (memberikan tenaga), maka jika tidak mau, maka ia dapat memenuhi perutnya dengan sepertiga makanan, sepertiga minuman dan sepertiga lagi untuk nafasnya.” (HR. Ahmad)

Demikianlah 9 adab makan dalam Islam yang sesuai dengan hadits Rasulullah shalallahu alaihi wasallam. Semoga bermanfaat.