Air Mata Yatim Seribu Pulau Tumpah di Tasmi’ Akbar Muharram Ceria

Air Mata Yatim Seribu Pulau Tumpah di Tasmi’ Akbar Muharram Ceria

Bukan hanya tangis air mata anak-anak Yatim Seribu Pulau yang tertumpah pada Tasmi’ Akbar 16-17 Agustus 2021 ini, melainkan juga air mata Abah Iman Surahman dan Umi Tyo (Ery Setyowati) yang juga menderas melihat anak-anak asuh mereka berhasil menyelesaikan tasmi’ 1 juz hingga 6 juz.

“Penghafal Quran bisa memberi syafaat keluarganya, saya berharap ada dari anak-anak ini yang mengingat saya di akhirat nanti, menyebut nama saya meskipun di urutan terakhir, untuk turut mereka ajak ke dalam surga,” ungkap Umi Tyo sambil berlinang air mata.

“Kami sudah tidak ada impian lagi, usia sudah tua, belum hafal quran, cara lain yang bisa kami lakukan adalah dengan mengasuh anak-anak penghafal quran…” timpal Abah Iman.

Pada Tasmi’ Akbar ini, ada Deltani Safitri asal Bengkulu yang tahun lalu telah lulus tasmi’ 5 juz, dan tahun ini ia bisa kembali tasmi’ dengan menambah 1 juz lagi menjadi 6 juz.

Ada Devi yang berhasil menambah 1 juz hafalan dengan sangat lancar, setelah beberapa bulan lalu ia lulus tasmi’ 5 juz, maasya Allah.

Ada pula Nanda asal Yogya, Nurjanah asal Tasik, dan Fani Fahira asal Padang yang juga menyetor tasmi’ 5 juz.

Zubaidah asal Pulau Seram Maluku, Cahaya Qilbiya asal Manado, Aini asal Lombok, dan Abil asal Bekasi, berhasil melalui tasmi’ 4 juz, yang dilakukan selama kurang lebih 4 jam hingga tengah malam.

Luthfia asal Palu, Saidah asal Papua, Firda asal Halmahera, dan Yana asal Bekasi, berhasil menyetor 2 juz. Yang juga penuh air mata karena diwarnai lidah kelu, dan hafalan yang tiba-tiba terlupa.

Sedangkan Maulana asal Lombok, Adit asal Yogya, Ilham asal Depok, dan Feri asal Yogya menyetor hafalan juz 30nya.

Di penutupan Tasmi’ Akbar, Abah mengingatkan anak-anak asuhnya, Yatim Seribu Pulau, bahwa menghafal Quran perlu diresapi maknanya.

“Orang yang hafal surat Al Ikhlas tapi tahu maknanya dan dia jalankan sungguh-sungguh dalam kehidupan sehari-harinya, lebih baik daripada yang hafal 30 juz al Quran tapi tak paham apa-apa, seperti anak kecil yang khusyu bernyanyi padahal tak mengerti arti,” seru Abah mengingatkan.

Tentunya bangga memiliki anak-anak penghafal Quran, namun Abah tak ingin anak-anak asuhnya hanya menghafal quran sebagaimana bocah kecil menghafal lirik lagu bahasa asing.

Terimakasih para donatur dan orangtua asuh yang telah mendukung terselenggaranya perhelatan Tasmi’ Akbar, dan bahkan ada pula yang menyempatkan diri ikut hadir menyimak hafalan anak-anak dan berkemah di Rumah Ceria. Jazakumullah khairan katsiran.

Terimakasih Orangtua Asuh, 10 Anak Yatim Seribu Pulau Lulus SD, SMP dan SMA Tahun 2021

Terimakasih Orangtua Asuh, 10 Anak Yatim Seribu Pulau Lulus SD, SMP dan SMA Tahun 2021

Zubaedah asal Pulau Seram, Firda Sariu asal Halmahera, Cahaya Harum Qilbiya Mertosono asal Manado, dan Fani Fahira asal Padang alhamdulillah sudah dinyatakan lulus PKBM paket A yang setara dengan tingkat Sekolah Dasar.

Sementara itu, di PKBM Paket B ada Hartoyo, Reza, Toriansyah, Darman, serta Nuraini Aqila Maulida yang juga telah dinyatakan lulus setara sekolah menengah. Dan ada juga Jahidah asal pulau Mesah NTT yang lulus PKBM paket C atau setara SMA, dan akan melangkah ke jenjang perguruan tinggi.

Biaya PKBM Paket A hingga selesai ujian Rp 2.500.000/anak, sedangkan biaya PKBM Paket B hingga selesai ujian Rp 3.000.000/anak, adapun biaya PKBM paket C hingga selesai ujian sebesar Rp 3.500.000,- Alhamdulillah, berkat dukungan dari para orangtua asuh YSP, anak-anak kami bisa melalui fase kelulusan akademisnya.

Meskipun sejak pandemi melanda, anak-anak Yatim di Rumah Ceria Seribu Pulau semuanya menerapkan sistem homeschooling yakni dengan belajar di rumah saja. Pengajarlah yang dipanggil datang untuk mengajar anak-anak di rumah. Namun, kami berharap akan semakin banyak anak kami yang bisa memperoleh ijazah kelulusannya.

Akhir Juli 2021 ini, ijazah anak-anak insya Allah sudah akan diterima.

Sahabat… Teruslah menjadi orangtua asuh YSP, hanya Allah yang dapat membalas kebaikan Sahabat semua.

=====
Berikan Donasi Terbaik Sahabat ke :

– BCA 6755800809
– Bank Syariah Indonesia 7134204545
– Bank Mandiri 1670003750006
a/n Dongeng Ceria Indonesia
Konfirmasi : 0812-2345-4030

Inilah Kerennya Menjadi Orangtua Asuh Santri Penghafal Quran Yatim Seribu Pulau

Inilah Kerennya Menjadi Orangtua Asuh Santri Penghafal Quran Yatim Seribu Pulau

Program orangtua asuh santri penghafal Quran ada di mana-mana, karena memang santri yatim dhuafa memerlukan orangtua asuh untuk menyokong biaya kebutuhan hariannya.

Lalu apa bedanya menjadi orangtua asuh santri penghafal Quran Yatim Seribu Pulau? Setidaknya ada 3 hal yang membedakan santri penghafal quran Yatim Seribu Pulau dengan yang lainnya:

1. Kumpulan anak-anak yatim/dhuafa dari berbagai daerah di Indonesia

Anak-anak kami, Yatim Seribu Pulau berasal dari berbagai daerah, sebagiannya merupakan daerah yang dilanda bencana alam. Ada dari Bengkulu, Sukabumi, Palu, Manado, NTT, NTB, Halmahera, Ambon, Papua, bahkan juga anak-anak suku pedalaman Togutil yang hidup nomaden.

2. Tidak sekadar menghafal Quran

Selain menghafal Quran, anak-anak kami Yatim Seribu Pulau juga diajarkan berbagai lifeskills yang bertujuan melatih kemandirian mereka sehingga bisa langsung berkontribusi untuk umat di usia balighnya, dan kembali untuk membangun kampung halaman masing-masing… termasuk mendirikan Rumah Ceria Yatim Seribu Pulau di daerah mereka sendiri.

Rumah Ceria Yatim Seribu Pulau Setu Bekasi saat ini memiliki Rumah Tempe, ternak kambing, kebun hidroponik, kolam ikan, rumah burung, yang kesemuanya merupakan sarana anak-anak Yatim Seribu Pulau untuk mempraktikkan apa yang telah dipelajari.

3. Berbagi sejak sedini mungkin dengan apapun yang dimiliki

Anak-anak kami, Yatim Seribu Pulau, memang kumpulan anak-anak yatim, piatu, dan dhuafa, tapi mereka tidak lemah, mereka bahkan sudah mampu berbagi pada orang lain yang memerlukan.

Kami membangun Roemah Makan Gratis (Roemantis) Dongeng Ceria di daerah Cikunir Jatiasih yang merupakan tempat anak-anak Yatim Seribu Pulau berkhidmat untuk masyarakat, mereka lah yang menyiapkan makanan gratis untuk dibagi-bagikan pada para pejuang nafkah di jalan.

Tanpa dukungan orangtua asuh, anak-anak kami Yatim Seribu Pulau tentu tidak kan mampu berdaya seperti saat ini.

Yuk, berikan Donasi Terbaik Sahabat melalui:

– BCA 6755800809
– Bank Syariah Indonesia 7134204545
– Bank Mandiri 1670003750006

a/n Dongeng Ceria Indonesia
WA 0812 2345 4030

Informasi Orang Tua Asuh Yatim Seribu Pulau, KLIK DISINI

Yatim Seribu Pulau Belajar Ternak Kambing dan Produksi Tempe di Rumah Ceria

Yatim Seribu Pulau Belajar Ternak Kambing dan Produksi Tempe di Rumah Ceria

Jika di sekolah anak-anak biasa diajarkan kemampuan akademis, seperti kemampuan menulis, menghafal, menghitung, menganalisa, dan mempresentasikan ide, maka di Rumah Ceria Yatim Seribu Pulau, lifeskills merupakan kemampuan yang diharapkan menjadi unggulan bagi anak-anak yang tinggal di sini.

Lifeskills merupakan kemampuan dan pengetahuan seseorang untuk berani menghadapi problema hidup dan kehidupan secara proaktif mencari serta menemukan solusi sehingga akhirnya mampu mengatasinya dengan kemampuan berinteraksi dan beradaptasi dengan orang lain, keterampilan mengambil keputusan, pemecahan masalah, berpikir kritis, berpikir kreatif, berkomunikasi yang efektif, membina hubungan antar pribadi, kesadaran diri, berempati, mengatasi emosi dan mengatasi stres.

Bayangkan… di Rumah Ceria Yatim Seribu Pulau ada puluhan anak dari berbagai daerah di seluruh Indonesia berkumpul jadi satu, mereka harus mampu beradaptasi dengan berbagai perbedaan yang ada.

Nah, mulai bulan Mei ini, Rumah Ceria telah memiliki 2 ‘wahana’ baru untuk mengajarkan anak-anak Yatim Seribu Pulau Lifeskills yang insya Allah bermanfaat untuk masa depan mereka. Yakni Rumah Tempe dan Rumah Kambing Etawa.

Rumah Tempe merupakan tempat bagi anak-anak Yatim Seribu Pulau belajar memproduksi tempe Suntree yang higienis. Untuk menghasilkan sebuah tempe saja, diperlukan waktu hingga 4 hari, dengan melewati beberapa proses produksi. Mulai dari pemilihan kedelai, pengelupasan kedelai, pencucian kedelai, hingga proses peragian, packing, dan distribusi.

Dari berbagai proses yang perlu dilalui ini, tentu saja anak-anak bisa belajar mengenai pentingnya proses, ketekunan, juga kesabaran. Apalagi jika tempe yang mereka produksi masih tersisa banyak padahal tempe hanya awet maksimal 7 hari saja, pada akhirnya diperlukan kejelian untuk menemukan solusi dari persoalan.

Nah, akhirnya lahirlah produk baru tempe orek Suntree, yang bertujuan memperlama masa awet tempe Suntree yang telah diproduksi tersebut. Alhamdulillah, rasa yang enak dan bumbu yang berani telah menjadikan tempe orek Suntree digemari pula oleh para pembeli.

Selain Rumah Tempe, di akhir Mei ini telah hadir pula Rumah Kambing Etawa di kebun belakang Rumah Ceria. Ada lebih dari 90 ekor kambing perah di dalamnya.

“Rupanya kambing-kambing itu punya karakter berbeda-beda sebagaimana manusia lho, ada yang ngeyel, manut, masa bodo. Dengan belajar menghandle kambing-kambing ini, sama juga anak-anak tengah belajar menjadi pemimpin di masa depan. Tak heran, para Nabi ketika kecilnya banyak yang merupakan seorang penggembala kambing,” ungkap Kak Iman, Abah Yatim Seribu Pulau.

Anak-anak Yatim Seribu Pulau setiap harinya mendapat tugas untuk memberi makan dan membuat nyaman para kambing betina sehingga bisa menghasilkan air susu yang banyak ketika diperah.

Inilah 2 wahana baru yang diharapkan mampu menggojlok anak-anak Yatim Seribu Pulau menjadi pemimpin masa depan yang shalih dan memiliki kecakapan lifeskills tinggi sehingga tidak lagi bergantung pada orang lain dalam memenuhi kebutuhan hidupnya.

Jahida: Calon Angkatan Laut yang Sudah Hafal 10 Juz Al Quran

Jahida: Calon Angkatan Laut yang Sudah Hafal 10 Juz Al Quran

Badan tegap, besar, begitulah perawakan Jahida. Ia mudah dikenali dan mudah diingat di antara santri Yatim Seribu Pulau lainnya karena profil dirinya yang khas.

Jahida bergabung di Rumah Ceria Yatim Seribu Pulau sejak tahun 2015, saat itu ia baru berumur 12 tahun.

Santri putra asal Pulau Messah Nusa Tenggara Timur ini hobi berenang, main bola, silat, takraw, dan bercita-cita menjadi tentara angkatan laut suatu hari nanti.

“Di pedalaman itu orang-orang tidak tahu agama Islam tersebarnya bagaimana di Indonesia, nah saya mau menjadi penyebar Islam… kebetulan dari kecil sudah dekat dengan laut jadi saya ingin jadi angkatan laut.”

Jahida mengaku sejak kecil sudah sering berenang di laut, bahkan makan sehari-hari ambil langsung dari laut, misalnya: Ikan, gurita, lobster, udang, cumi-cumi, uwwooow, maasya Allah

Saat ini alhamdulillah Jahida sudah berhasil menghafal 10 juz al Quran, “Abah bilang kalau hafidz mudah jadi apa saja, moga saya bisa jadi tentara…” ungkapnya.

Di Rumah Ceria YSP Setu Bekasi, Jahida dipercaya untuk memegang usaha depot air minum, terkadang ia juga membantu dalam pembuatan tempe SunTree.

Doakan Jahida berhasil menggapai impiannya yaa Ayah Bunda.🤲

================

Ingin turut menjadi orangtua asuh untuk adik-adik Yatim Seribu Pulau? Sekarang amat mudah, melalui rekening a.n #DongengCeriaIndonesia

  • Bank Syariah Indonesia (Bank Syariah Mandiri) 713.420.4545
  • Bank Mandiri 1670003750006

Konfirmasi transfer: wa 0812-2345-4030

Fani Fahira: Pemalu, tapi Bisa Mengajar Ngaji Anak-anak Warga Sekitar

Fani Fahira: Pemalu, tapi Bisa Mengajar Ngaji Anak-anak Warga Sekitar

Suaranya pelan, tidak jelas, dan bergetar, tapi senyuman tak lekang dari wajah mungilnya. Beberapa kali ia kedapatan menutupi wajahnya sendiri dengan ujung kain hijabnya karena malu ketika ditanya.

“Sebelum ke Rumah Ceria Dongeng Ceria Indonesia, aku tinggal di Buaran. Ayah asal Padang, waktu kecil aku pernah ke sana sebentar, ibu asal Tegal, tapi ibu sekarang udah gak ada…” Ungkap Fani, “Ayah tahu Rumah Ceria ini dari temannya yang kenal Abah Iman,” tambahnya lagi, menceritakan asal mulanya datang ke Rumah Ceria, 4 tahun silam.

Fani tak sendiri, abangnya, Rizki, juga ada menemani di Rumah Ceria sini.

Alhamdulillah, saat ini Fani sudah hafal juz 30, 29 dan 28. Dan, pertengahan tahun 2021 nanti insya Allah Fani akan lulus ujian PKBM Paket A (Sekolah Dasar).

Meskipun perawakannya imut dan ekspresinya selalu canggung alias pemalu, ternyata Fani bisa pegang adik-adik sekitar Rumah Ceria untuk mengaji Iqro’ di sore hari lho. Wah… Hebat.

Fani mengaku mata pelajaran favoritnya adalah Bahasa Arab.

Ditanya cita-cita, Fani yang hobi tidur dan baca Qur’an ini ingin sekali menjadi dokter anak. Ia mengaku tidak takut melihat darah dan tidak berminat cita-cita lain selain menjadi dokter anak.

Wuih… semangat dan terus percaya diri yaa Fani, kamu pasti bisa mencapai apa yang kamu impikan, asalkan senantiasa berdo’a dan rajin belajar setiap hari.

Saidah, Awalnya Malas Tahajud Sekarang Jadi Rutin Setiap Hari

Saidah, Awalnya Malas Tahajud Sekarang Jadi Rutin Setiap Hari

Senyumnya malu-malu, hampir tidak berbicara jika tidak ditanya. Terlihat sekali karakternya pendiam dan introvert. Saidah namanya, berasal dari Papua Barat.

Saidah tinggal bersama bibinya, kedua orangtuanya sudah tiada. Sejak 2015, Saidah telah bergabung di Rumah Ceria Yatim Seribu Pulau (YSP). Sesekali ia menghubungi bibinya di Papua sana melalui telepon.

Saidah mengaku dirinya suka melamun, jalan-jalan dan menulis. Ia berharap bisa menjadi pengusaha suatu hari nanti agar bisa menolong orang lain dan banyak bersedekah.

Di Rumah Ceria YSP, Saidah bersyukur karena ia bisa banyak belajar hal yang tadinya ia tidak bisa. 

Saidah mengaku tadinya ia malas belajar, malas mengaji, malas bangun tahajud, alhamdulillah di sini ia bisa rutin melakukannya setiap hari.

Saidah mendoakan semua orangtua asuh Yatim Seribu Pulau, semoga Allah panjangkan umur dan memberikan rezeki berlipat ganda.

====

Mari sahabat, menjadi orang tua asuh dari santri penghafal Qur’an Yatim Seribu Pulau. Berikan sedekah terbaik sahabat ke :

Bank Mandiri : 167.000.375.0006
Bank Syariah Mandiri : 713.420.4545
BNI Syariah : 0866.222.860
Atas Nama : Yayasan Dongeng Ceria Indonesia

Semoga Allah memberikan keberkahan dan keberlimpahan yang berkali-kali lipat, aamiin

Cahaya: Ingin Jadi Guru Pelosok dan Pengusaha

Cahaya: Ingin Jadi Guru Pelosok dan Pengusaha

Gadis asal Manado ini sudah bergabung dengan Yatim Seribu Pulau (YSP) sejak tahun 2017. Gaya khasnya adalah senyum berlesung pipi yang selalu tampak di wajah riangnya.

Cahaya mengaku ingin menjadi guru yang mengajar di pelosok daerah. Alasannya ia ingin bermanfaat untuk umat.

Selain jadi guru, Cahaya juga ingin menjadi pengusaha. Tapi ditanya detailnya mau usaha di bidang apa, Cahaya mengaku belum tahu.

“Aku mau jadi pengusaha kaya raya supaya bisa banyak sedekah dan jadi orang paling dermawan di muka bumi ini…”

Waah, mudah-mudahan bisa tercapai keinginan mulia Cahaya, aamiin ya rabbal’alamin…

Nanti kalau sudah sukses, jangan lupakan Abah Umi dan adik kakak Cahaya semua di Yatim Seribu Pulau ya.

====

Yuk jadi orang tua asuh santri penghafal Qur’an Yatim Seribu Pulau. KLIK TOMBOL DIBAWAH ya…

Riana, Santri Angkatan Pertama di Yatim Seribu Pulau

Riana, Santri Angkatan Pertama di Yatim Seribu Pulau

Awalnya Riana tidak berniat menjadi Santri Yatim Seribu Pulau, karena Riana sendiri masih memiliki orangtua utuh.

Ia jauh-jauh datang dari Nusa Tenggara Timur ke ibukota untuk belajar terutama mengenai Islam, karena keluarganya banyak yang non muslim. Sayangnya, pesantren yang dituju malah sudah penuh.

“Saya dulu belum berhijab, belum bisa baca Hijaiyah, saya dari kecil ikut kakek jalankan agama Kristen Protestan,” ujarnya. Namun karena satu dan lain hal, Riana dikirim ayahnya ke Jakarta untuk belajar Islam, alhamdulillah akhirnya malah bisa bergabung dengan Yatim Seribu Pulau yang saat itu masih dihandle oleh Nenek, ibunda Kak Iman Surahman, bertempat di Jl Salak Bawah Jatiasih.

“Kata Abah sayang sudah jauh-jauh ke Jakarta malah tidak berhasil mendapat yang dituju, akhirnya saya bergabung di Yatim Seribu Pulau dan belajar bersama 4 teman seangkatan lainnya,” ungkap Riana yang saat itu ke Jakarta baru berusia 13 tahun.

“Sekarang teman seangkatan saya di YSP sudah menikah semua,” seru Riana sambil tersenyum lebar, “Sampai sekarang saya sering main ke Rumah Ceria YSP karena kata Abah rumah ini selalu terbuka untuk siapa saja,” tambahnya.

Diakui Riana, belajar bersama Yatim Seribu Pulau hingga berhasil kuliah mengajarinya banyak hal tentang kehidupan. Tinggal sendirian di daerah yang jauh dari orangtua dan keluarga tentu tidak mudah, “Dari YSP ini aku ditempa untuk bisa menghadapi kehidupan di dunia luar.”

Oleh sebab itu, Riana masih sering main ke Rumah Ceria untuk melihat adik-adik YSP saat ini untuk sekadar menanyakan kabar mereka.

“Di Rumah Ceria Setu ini selalu ada pembangunan dan hal baru tiap kali aku datang, saat ini adik-adik YSP berfokus menghafal Qur’an, kalau dulu aku belum ke menghafal, baru menulis dan membaca hijaiyah saja.”

Alhamdulillah, Riana saat ini sudah bekerja dan mandiri. Profil santri YSP angkatan pertama ini bisa memperlihatkan pada kita bahwa pendidikan bisa mengubah banyak hal.

Sukses selalu untuk Riana!

===

Yuk menjadi orang tua asuh untuk santri penghafal Qur’an Yatim Seribu Pulau, KLIK TOMBOL DIBAWAH ya…

Reza Pramudia Asal Sukabumi Murojaah 1 Juz Tiap Usai Shalat

Reza Pramudia Asal Sukabumi Murojaah 1 Juz Tiap Usai Shalat

Sosoknya pendiam dan pemalu, jika ditanya hanya menjawab pendek-pendek seperlunya saja. Di hadapan kamera dan tim, ia terlihat sedikit grogi, namun tetap berusaha menjawab semua pertanyaan wawancara dengan baik.

Namanya Reza Pramudia, asal Sukabumi. Menjadi sorotan tim Dongeng Ceria karena saat ini ia telah hafal quran 12 juz. 

Ditanya soal tips menghafal quran, Reza yang baru bergabung dengan Yatim Seribu Pulau (YSP) 2 tahun lalu ini mengaku tidak punya tips khusus, “Yang terpenting muroja’ah (mengulang hafalan),” ungkapnya.

Reza sendiri merasa waktu terbaik untuk muroja’ah adalah setiap selesai shalat 5 waktu. Pemuda 16 tahun ini mengulang hafalan 1 juz tiap selesai shalat, jadi dalam sehari ia bisa muroja’ah 5 juz. Maasya Allah… 

Sebelum bergabung dengan YSP, Reza mengaku belum menghafal 1 juz pun, sehingga bisa dikatakan ia termasuk santri yang cepat dalam menghafal quran. “Motivasi utama saya adalah buat orangtua, bapak sudah tidak ada, ibu senang dan bangga saya menghafal quran.”

Reza kini tinggal di Rumah Ceria khusus putra di Jl Mangga Jatiasih, bersama 8 santri YSP lainnya yang berasal dari Halmahera, Pulau Mesah NTT, dan Kalimalang. Pemuda asal Sukabumi ini bersyukur bisa sering menengok ibunya, minimal ketika lebaran. 

Ketika ditanya soal hubungannya dengan teman-teman lainnya di Rumah Ceria, Reza mengatakan tidak ada yang berasal dari daerah yang sama dengannya, namun mereka memiliki kedekatan. 

“Biasanya anak-anak suka main bola, tapi saya kurang suka bola. Saya lebih suka bulu tangkis atau silat,” ucap Reza ketika dikulik-kulik soal kegiatannya di luar belajar dan menghafal quran.

Sukses buat Reza, terus menghafal sampai 30 juz dan jaga terus hafalan tersebut di hati dan tingkah lakumu Wahai Pemuda Shalih. Doakan selalu ayah dan ibunda agar derajat mereka tinggi di hadapan Allah sebagaimana harapanmu.

=============

Sahabat, yuk jadi orang tua asuh untuk santri penghafal Qur’an Yatim Seribu Pulau. Berikan sedekah terbaik kita ke :

Bank Mandiri : 167.000.375.0006
Bank Syariah Mandiri : 713.420.4545
Atas Nama : Yayasan Dongeng Ceria Indonesia

Semoga Allah senantiasa memberikan keberkahan dan keberlimpahan untuk sahabat donator semua