Kak Dhita: Jurusan Teknologi Pangan Yang Takut Anak-Anak Tapi Sukses Jadi Pendongeng

Kak Dhita: Jurusan Teknologi Pangan Yang Takut Anak-Anak Tapi Sukses Jadi Pendongeng

Luar biasa, padahal Kak Dhita yang punya nama lengkap Dhita Windi Wardani ini latar belakang pendidikannya Teknologi Pangan, dan dari dulu takut banget sama anak-anak alias grogi dan bingung bagaimana menghadapi anak-anak… eeh tapi kok bisa ya jadi pendongeng?

Nah, ternyata justru rasa takut menghadapi anak-anak inilah yang memotivasi Kak Dhita untuk perlahan mendekati anak-anak dengan media dongeng. Waah jago ya Sahabat.

Boneka yang sering dipakai Kak Dhita bernama Yoyo, nah… suara perut Kak Dhita jago sekali lho sampai-sampai Yoyo benar-benar seperti bisa berbicara sendiri. Apakah untuk jadi pendongeng memang harus jago suara perut?

“Menurut Kak Dhita yang penting punya niat dulu untuk jadi pendongeng, kemudian berlatih dengan satu cerita. Terus saja pakai satu cerita tersebut untuk mendongeng ke mana-mana sampai benar-benar mahir,” saran Kak Dhita untuk yang mau masuk ke dunia pendongeng.

kak dhita dongeng ceria

Pengalaman berkesan sebagai pendongeng di Dongeng Ceria Management bagi Kak Dhita adalah saat mengisi dongeng di Halmahera, saat itu pulangnya Kak Dhita tidak sendirian melainkan turut membawa Oncu alias Firda Sariu, yang sampai saat ini masih bergabung sebagai bagian dari keluarga Yatim Seribu Pulau.

Nah, sepulang dari Halmahera waktu itu… Kak Dhita kemudian dianugerahi seorang anak yang telah dinanti-nantikan, sehingga bagi Kak Dhita Oncu adalah kakak dari anaknya sendiri.

Alhamdulillah, pastinya berkesan sekali perjalanan mendongeng Kak Dhita ke Halmahera. Semoga pandemi segera berlalu dan semua pendongeng hebat di Dongeng Ceria bisa kembali menemui adik-adik di seluruh Indonesia secara offline.

====

Yuk menjadi Orang Tua Asuh Santri Penghafal Qur’an Yatim Seribu Pulau, KLIK DISINI

Kak Yono: Paling Berkesan Sebagai Pendongeng DCM Bisa Menunaikan Ibadah Umroh

Kak Yono: Paling Berkesan Sebagai Pendongeng DCM Bisa Menunaikan Ibadah Umroh

Kak Yono yang lebih beken dengan nama Kak Yono Sirine ini sudah menyukai dongeng sejak masih bujangan lho Sahabat.

Pilihannya menjadi seorang pendongeng karena menyadari kewajiban menyampaikan kebaikan pada siapapun (berdakwah), dan Kak Yono merasa mendongeng atau berkisah adalah metode yang paling pas.

Alhamdulillah keluarga Kak Yono dan lingkungan sekitarnya mendukung. Kalau ada acara untuk anak-anak, Kak Yono sering kali dilibatkan, dari tingkat RT, RW, hingga kelurahan.

Kak Yono mengakui salah satu alasannya bergabung dalam Dongeng Ceria Management (DCM) adalah karena adanya seorang pendongeng hebat yang menjadi favoritnya, yaitu Kak Iman.

“Kak Iman sosok pendongeng yang patut di contoh yaitu menaungi, mendidik, membesarkan dan memberikan kasih sayang buat anak-anak (Yatim Seribu Pulau) di sana, aku iri lho…” ungkapnya.

Ditanya soal pengalaman mendongeng bersama Dongeng Ceria yang paling berkesan, Kak Yono menyatakan bahwa semuanya berkesan.

Kak Yono pernah mendongeng di berberapa daerah bencana, salah satunya waktu di Sumatera Utara tepatnya saat Erupsi Gunung Sinabung. Kak Yono dan anak sulungnya ikut tidur di pengungsian, ketika mau buang air kecil tidak ada air, akhirnya menggunakan air mineral untuk istinja.

Tapi pengalaman paling mengesankan adalah bisa menunaikan ibadah Umroh bersama DCM, sebagai bagian dari kafalah mendongeng, maasya Allah.

Kak Yono merasakan cukup banyak perubahan setelah pandemi. “Pertama, biasanya kita (aku dan kak Dini) sebulan atau dua bulan sekali keluar kota untuk mendongeng di sekolah, juga menjemput infaq dan shodaqoh anak murid di sana. Kedua, akhirnya saat pandemi ini kita mendongeng hanya via online baik menggunakan zoom atau lainnya.”

Ke depannya, Kak Yono berharap dirinya akan terus dapat memberikan pencerahan dengan mendongeng, dapat menyampaikan dan menanamkan akhlak yang baik khususnya kepada anak-anak. Sebagaimana Moto DCM “Bercerita dengan Cinta menanamkan akhlak mulia.”

Ka Adhip : Awalnya 3 Tahun Jadi Tukang Angkat Koper dan Sound, Hingga Mendongeng Ke Suku Pedalaman

Ka Adhip : Awalnya 3 Tahun Jadi Tukang Angkat Koper dan Sound, Hingga Mendongeng Ke Suku Pedalaman

Sahabat dongeng ceria, kalau mau tahu ketua Yayasan Dongeng Ceria Indonesia, nah ini dia profilnya. 

Kak Adiputra Septiyantono atau yang lebih dikenal dengan panggilan Kak Adhip ini punya ciri khas suara yang bisa berubah atau meniru suara hewan dan suara lainnya seperti desingan pesawat terbang dll.

Siapa sangka sih demi dapat ilmu mendongeng, Ka Adhip rela 3 tahun jadi ‘tukang angkat koper’ dan pasang sound saat Kak Iman mendongeng di berbagai tempat. Beuhh mantab jiwa… Adab terhadap guru banget yaah.

Gimana cerita selengkapnya sih? Cekidot…

“Jadi awal 2013 saya waktu itu ketua Karang Taruna, mau bikin acara untuk anak-anak tapi bingung siapa pengisi hiburannya. Akhirnya dari situlah mengenal Kak Iman sebagai pendongeng,” papar Ka Adhip. 

Pendongeng kelahiran 1992 ini mengaku saat itu terpukau melihat penampilan Kak Iman yang asyik banget mendongeng di hadapan anak-anak.

“Saya langsung pikir… Wah ini ilmu banget nih, saya harus belajar.” Setelah itu Kak Adhip pun menyambangi kediaman Kak Iman untuk berterima kasih atas performnya dan mengutarakan niatnya untuk belajar dongeng.

Kemudian,  Kak Adhip menjadi asisten khusus mengangkat koper dan mengurus sound saat Kak Iman manggung, dari situ Kak Adhip belajar cara perform, menguasai panggung, menangani audiens dan ilmu penting lainnya dalam mendongeng. Hal tersebut berlangsung sekitar 3 tahun.

Akhirnya tiba jugalah waktunya Kak Adhip dipercaya untuk mengisi acara dongeng. Senang banget pastinya, bagi Kak Adhip semua event amat berkesan, melihat tawa anak-anak saat dirinya mendongeng.

Kalau ditanya pengalaman mendongeng paling greget dan punya kesan mendalam, Kak Adhip mengingat saat harus ke suku pedalaman di perbatasan Riau dan Jambi, yakni Suku Talang Mamak.

“Perjalanannya amat jauh, memakan waktu 2 hari, naik perahu sampan mesin,” ungkap Kak Adhip.

“Sampai di desa pertama saja butuh 9 jam, istirahat dulu di sana karena kami melawan arus. Hanya ada sekitar 10 kepala keluarga di situ,” lanjutnya.

Kemudian masih perlu 9 jam lagi untuk sampai ke tujuan. Begitu tiba di sana kak Adhip terharu dan kaget melihat anak-anak sudah menunggu dengan memakai seragam. Mereka kira pendongeng adalah guru.

kak adhip dongeng ceria

Kalau di kota, banyak anak males-malesan sekolah, kalau di pedalaman… Anak-anak menunggu kehadiran guru.

Selain ke Suku Talang Mamak, pengalaman berkesan lainnya saat mendongeng di Tolikara, Papua.

“Saat konflik di Tolikara masjid terbakar, saya dan Kak Iman ada di sana, shalat Idul Adha di sana. Dijaga oleh tentara kulit hitam yang gagah-gagah.”

Hal ini tentu menjadi pengalaman tak terlupakan buat Kak Adhip.

Bagaimana reaksi keluarga tentang profesi pendongeng? Awalnya tentu keluarga bingung kok profesi mendongeng, “Kalau tidak mendongeng mungkin saya kerja kantoran atau jadi PNS.”

Tapi dari mendongeng juga, alhamdulillah bisa dapat istri dari Sumatra. Cieh so sweet…

Pendongeng favorit Kak Adhip adalah Pak Raden. Tapi panutan saat ini tentunya Kak Iman Surahman yang sudah mengajarkan mendongeng secara langsung pada Kak Adhip.

Yang menyulitkan ketika mendongeng bagi bapak dari 2 anak ini adalah menyamakan frekuensi dengan anak-anak. “Karakternya kan macam-macam, harus bisa kita pahami.”

Saat mendongeng di tenda pengungsian misalnya, ada anak yang iri temannya dapat sesuatu sedangkan dia tidak, kita perlu menyamakan frekuensi dengan mereka agar dongeng bisa masuk.

Harapan Kak Adhip dirinya menjadi orang yang bermanfaat, dan anak-anak yang mendengar dongengnya bisa memahami sifat baik yang harus dipraktikkan dan sifat buruk yang harus dihindari. 

Wah super sekali kak Adhip. Sukses terus ya Kak…

Mau belajar mendongeng bersama Dongeng Ceria? Gabung di grup whatsapp yuk: 

Ketik: Gabung grup dongeng_nama

Kirim wa ke 0812 2345 4030

Kak Dini : Dari Guru Jadi Pendongeng, Berkeliling Indonesia Hingga Malaysia

Kak Dini : Dari Guru Jadi Pendongeng, Berkeliling Indonesia Hingga Malaysia

Punya nama lengkap Dieni Kurniasih dengan titel Sarjana Pendidikan dan telah menjadi guru, rupanya tak membuat Kak Dini ragu, justru malah yakin sekali beralih profesi menjadi pendongeng di tahun 2013. Apa ya alasannya?

Kak Dini mengaku baru tahu pendongeng bisa jadi sebuah profesi sejak bertemu Dongeng Ceria Management (DCM) di tahun 2012, terutama setelah kenal Kak Iman Surahman.

Baru kemudian Kak Dini mempelajari manfaat dongeng, kiprah para pendongeng, khususnya banyak ilmu didapat dari Dongeng Ceria yang akhirnya membuat Kak Dini tergelitik untuk turut menjadi pendongeng.

“Ternyata profesi pendongeng ini sama seperti guru, insya Allah pahalanya mengalir terus jika pendengarnya berubah sikap atau perilaku setelah mendengar cerita kita…” ungkap wanita kelahiran 29 Oktober 1970 ini.

Kak Dini sendiri memang sudah suka dongeng sejak masih kecil. Dulu ayah kak Dini yang sering cerita kalau malam.

“Seringnya sih cerita rakyat seperti Bawang Merah Bawang Putih, Timun Mas, Ikan Mas Ajaib….itu yang paling Ka Dini ingat, karena ceritanya tiap malam bersambung sudah kayak sinetron bikin penasaran. Hihihi…” ungkapnya sambil bernostalgia.

Pada akhirnya Kak Dini memahami bahwa banyak yang bisa ditanamkan lewat dunia cerita terutama akhlak, menanamkan pendidikan karakter lewat metode yang mengasyikkan, buat diri pribadi juga bisa menambah banyak ilmu dengan banyak baca literasi, juga tau metode mendongeng ini bisa untuk menghibur anak-anak di tempat bencana.

“Pengalaman mendongeng yang berkesan bersama DCM? Huaaa banyak!”

Ketika dikirim ke Medan tahun 2014 yaitu ke desa Gong Pinto di sekitaran Gunung Sinabung, itu pengalaman pertama Kak Dini naik pesawat.

“Lalu dibawalah ke desa gong pinto yang jauhnya warbiasyah….bertemu anak anak penyintas musibah Sinabung,” ujarnya.

Begitu pula di tahun 2014 tepatnya di Banjarnegara ketika ada longsor, Kak Dini merasakan sulitnya mendongeng di daerah bencana, karena saat di lokasi masih banyak tanah bergerak, dan longsor susulan….

Medannya agak berat selain di pegunungan, hujan yang terus menerus, tanah yang bergerak dan tim taruma healing paling ditunggu karena anak-anak di beberapa wilayah sudah terjebak dalam waktu yang lama.

“Menemui mereka harus jalan kaki naik ke gunung, bawa barang-barang yang harus disampaikan ke penyintas….sampai merosot di antara jurang,” ungkap Kak Dini sambil mengingat masa-masa tersebut.

Lalu tahun 2016 saat dikirim DCM ke Bima NTB… menemani anak anak penyintas bencana di sana. Kondisi kota lumpuh, tidak ada kendaraan jadi tim harus jalan kaki berkilo-kilo meter untuk bisa menjangkau anak-anak di pengungsian.

Selain itu, yang berkesan adalah saat Kak Dini ke Kuala Lumpur, ada beberapa sekolah sebenarnya yang minta didatangi untuk mendongeng, yakni sekolah anak-anak Indonesia di Kuala Lumpur, sekolah tingkat SMP yang muridnya merupakan anak-anak dari berbagai negara,  jadi Kak Dini harus mendongeng dalam bahasa Inggris, dan satu lagi sekolah anak TK yang berbahasa Melayu.

“Tapi akhirnya saya hanya bisa mendongeng di 2 tempat, karena saya tidak bisa bahasa Inggris. Hahaha. Meskipun bahasa Melayu juga cukup berbeda, tapi saya beranikan diri karena masih bisa memakai Bahasa Tarzan, saya ingat Kak Iman pernah cerita saat beliau di Aceh untuk menemani anak-anak Rohingya, beliau pakai pantomim atau gerak tubuh dan isyarat untuk bercerita, dari situ saya ingat dan ilmu ini terpakai saat mendongeng di Malaysia,” papar Kak Dini dengan nada antusias.

Memang sebelum jadi pendongeng, Kak Dini punya cita-cita berkeliling Indonesia. Alhamdulillah dipertemukan dengan Dongeng Ceria sebagai perahunya sehingga bisa menjelajah banyak daerah untuk bertemu anak-anak dan mendongeng di sana.

Kak Dini mengaku, baik suami dan anak-anaknya semua mendukung Kak Dini dalam mendongeng.

Ditanya soal pendongeng favorit, Kak Dini langsung mendaulat pastinya Iman Surahman.

“Beliau guru yang udah ngenalin saya bukan cuma gimana cara mendongeng tapi juga tentang ilmu kehidupan. Selain itu… ada juga kak Bimo.”

Menurut Kak Dini, kemampuan mendongeng sangat penting dipelajari untuk orangtua di rumah, tentunya sesuai dengan porsinya masing-masing. “Karena ada orangtua yang memang periang seperti saya, suka berkisah, tapi ada juga kan yang pendiam. Meski begitu tetap perlu belajar sedikit-sedikit karena anak tidak suka diceramahi, tapi senang kalau dengar cerita.”

Kak Dini dulunya mengira dongeng hanya untuk anak-anak, tapi di DCM sendiri Kak Dini belajat langsung dari Kak Iman bahwa ternyata mendongeng bisa juga untuk anak remaja yang paling malas kalau dinasihati atau diceramahi, akan tetapi kalau diberikan cerita dan kisah, mereka akan lebih bisa mencerna. Jadi orangtua perlu sekali membiasakan diri membaca dan belajar berkisah.

“Saat anak ingin berbuat salah, misalkan mau berbuat pelit… dia bisa ingat kisah Fatimah Az Zahra putri Rasulullah yang meskipun kondisinya susah, tapi masih mau sedekah. Untuk karakter seperti ini tidak usah dinasihati, dikasih cerita saja,” saran Kak Dini untuk para orangtua.

Terimakasih sharingnya yang amat luar biasa Kak Dini, sukses selalu dan terus semangat  bercerita dengan cinta, menanamkan akhlak mulia… 

Bagi Sahabat penikmat dongeng atau yang ingin jadi pendongeng juga seperti Kak Dini, gabung yuk di grup WA Dongeng Ceria, ketik: Gabung Grup Dongeng_Nama kirim ke wa 0812.2345.4030 mudah kan? Ditunggu yaa…

Iman Surahman : Pendongeng Berada Di Jalur Sepi, Ramaikanlah Dengan Nilai Positif

Iman Surahman : Pendongeng Berada Di Jalur Sepi, Ramaikanlah Dengan Nilai Positif

Sahabat, sudah kenal pastinya dengan Kak Iman Surahman atau yang biasa juga dipanggil Abah. Beliau adalah founder Dongeng Ceria Management (DCM) dan Yatim Seribu Pulau (YSP).

Jangan ditanya kiprah Kak Iman dalam dunia perdongengan di Indonesia, bukan hanya hadir mendongeng di tempat pengungsian bencana seperti saat gempa Bengkulu, Lombok, tsunami Aceh, Palu, erupsi gunung di Yogya dan wilayah yang pernah dilanda bencana alam lainnya, Kak Iman juga masuk ke daerah pelosok untuk mendongeng, seperti ke pedalaman Papua, Togutil di Halmahera, suku Tolikara, ke suku Talang Mama, ke perbatasan Indonesia Malaysia, hingga ke Pakistan.

Bahkan, Kak Iman pun pernah mendongeng di hadapan narapidana LP Nusa Kambangan tentang kisah motivasi. Wow, dahsyat ya Sahabat.

Selain Dongeng Ceria Management, Kak Iman merupakan salah satu pendiri Gerakan Para Pendongeng untuk Kemanusiaan (GePPuk), Kak Iman juga ikut serta dalam Forum Pendongeng Nasional, forum yang mencetuskan 28 November sebagai hari Dongeng Nasional. Bisa dikatakan, Kak Iman merupakan salah satu pendongeng senior di Indonesia. 

Kak Iman mulai mendongeng karena hobi. Sejak SD sudah mulai mendongeng di acara pesta ulangtahun, kegiatan RT, acara keluarga, dan acara teman-temannya. Bayarannya hanya ucapan terimakasih dan kotak nasi.

Pada tahun 2001, Kak Iman mantap memilih menjadi pendongeng sebagai profesinya, dan memutuskan keluar dari posisinya sebagai Komando Disaster Management Center di Dompet Dhuafa setelah beberapa tahun mengabdi sebagai relawan di lembaga kemanusiaan tersebut.

kak iman surahman dongeng ceria

Tidak sekadar mendongeng, setiap kali mendatangi suatu daerah bencana atau suku pedalaman… Kak Iman akan bertanya pada warga setempat adakah anak yatim atau dhuafa yang dapat dibawa untuk diasuhnya. 

Dari situlah lahir Yatim Seribu Pulau (YSP) di mana anak-anak yatim dan dhuafa dari berbagai daerah di Indonesia berkumpul dan diasuh dengan pola pendidikan berbasis keluarga. Rumah tempat Kak Iman tinggal bersama anak-anak YSP disebut Rumah Ceria, yang merupakan akronim dari Cerdas-Riang-Agamis.

Buat Kak Iman, setiap kali mendongeng di suatu tempat atau acara TV, 50% dari fee yang diperolehnya menjadi hak anak-anak yatim dan dhuafa.

Nah, untuk para pendongeng lainnya, Kak Iman mengingatkan bahwa menjadi pendongeng berarti mengambil jalur sepi, maka ramaikan jalur sepi ini dengan nilai-nilai positif. 

“Mudah-mudahan dengan ini, para pendongeng bisa memberi warna untuk anak-anak di masa depannya, karena jika kita ingin melihat negara Indonesia ini masih ada dengan segala ketentraman dan kenyamanannya, kuncinya semua ada di anak-anak yang kita temui saat ini.”

Ingin belajar mendongeng agar jago seperti Kak Iman? Gabung yuk di grup Dongeng Ceria, caranya gampang… ketik: Gabung Grup Dongeng_Nama kirim via wa ke admin Dongeng Ceria 0812.2345.4030

Febri Yoga: Menjadi Pendongeng Untuk Meneruskan Cita-Cita Istri

Febri Yoga: Menjadi Pendongeng Untuk Meneruskan Cita-Cita Istri

Sahabat, kenalkan salah satu pendongeng di Dongeng Ceria yang bernama Febri Yoga. Ada yang memanggilnya Kak Febri, tapi sekarang lebih banyak yang memanggilnya Kak Yoga.

Alasan Ka Yoga jadi pendongeng so sweet banget loh… jadi sebenarnya baru sejak nikah Ka Yoga menyukai dongeng, karena sang istri telah lebih dulu belajar mendongeng. Tapi karena Kak Yoga tidak memperkenankan istri bekerja, jadi Kak Yoga lah yang akhirnya meneruskan cita-cita istrinya sebagai pendongeng. Uwu banget ya…

Selama di Dongeng Ceria, Ka Yoga sudah pernah mendongeng di berbagai daerah, dari mulai roadshow dongeng ke sekolah-sekolah, sampai mendongeng di daerah lokasi bencana. Ka Yoga pernah ditunjuk untuk mendongeng di Ambon, di Bandung, di Jember, dan daerah lainnya di Indonesia.

Hampir semua pengalaman mendongeng memiliki kesan masing-masing, tapi bagi Ka Yoga yang paling berkesan ketika mendongeng di lokasi bencana.

Di lokasi bencana itu kulturnya berbeda, bahasa juga sering kali berbeda, apa yang jadi keseharian kita belum tentu mereka pahami, jadi proses penyamaan bahasa, penerimaan, itu yang menyulitkan awalnya.

Tapi yang berkesan bagi Kak Yoga, ketika ada beberapa anak yang mengingat Kak Yoga, dan meminta Kak Yoga untuk kembali mendongengkannya atau bahkan mau ikut bersama Kak Yoga.

Kak Yoga memfavoritkan pendongeng Ka Ucon dan Ka Iman. Namun tetap saja, Kak Yoga berharap bisa jadi pendongeng yang seperti adanya, “Kita punya tugas masing-masing, harapan saya seluruh pendongeng bisa memberi aura positif,” ungkap ayah dari 2 putri ini.

Keluarga Kak Yoga tadinya bingung kenapa kerja kok dongeng? Masa’ sih mendongeng bisa jadi pekerjaan? Tapi setelah Kak Yoga beri penjelasan, alhamdulillah keluarga support dan bangga Kak Yoga menjadi bagian dari keluarga mereka sebagai pendongeng.

pendongeng dongeng ceria kak yoga

Ditanya soal pandemi Corona, buat Kak Yoga, pengaruh pandemi sebagai pendongeng banyak betul. “Terakhir ketika tim Dongeng Ceria berada di Jember, sudah deal dengan beberapa sekolah untuk roadshow, namun tiba-tiba peraturan gubernur turun, 19 sekolah cancel semua,” tuturnya.

“Paling berkesan saat pandemi untuk pribadi sih saat token listrik bunyi seminggu lebih, setelah bisa bayar kontrakan, isi token, qodarullah anak sakit, saya sampai buat status ada yang punya kenalan dokter gak yang bisa dibayar dengan beras, karena kalau sembako saya ada, tapi kalau isi di dompet tinggal 20 ribu…”

Subhanallah, betapa pandemi ini banyak memberi pengaruh untuk berbagai profesi ya termasuk pendongeng. Tapi alhamdulillah apapun yang terjadi, Kak Yoga sebagai pendongeng bisa tetap tersenyum dan menghibur anak-anak dengan kisah penuh hikmah.

Nah, untuk para ayah… Kak Yoga berpesan penting sekali para Ayah bisa mendongeng, kenapa? 

“Ketika kita di luar kita sebagai ayah yang mencari nafkah, tapi ketika di rumah kita menjadi ayah yang dirindukan istri dan anak-anak, jangan berikan wajah lelah saat pulang ke rumah karena kita tidak tahu apa yang terjadi sepanjang hari ini pada anak dan istri kita,” ungkap pemilik akun IG Pendoy28 ini.

“Benteng pertama seorang anak adalah keluarga, ibu adalah guru pertama untuk anak-anak, tapi ingat… ayah adalah kepala sekolahnya. Penting bagi ayah untuk dapat bertutur, berkisah pada anak-anak, memberi wasilah melalui cerita, karena kelak ayah yang akan bertanggungjawab di hadapan Allah.”

Waah, makjleb sekali pesan Kak Yoga ya Sahabat.

Ingin belajar mendongeng seperti Kak Yoga? Yuk gabung di grup Dongeng Ceria. Wa admin di 0812.2345.4030, ketik: GABUNG GRUP DONGENG_NAMA