Dongeng: Pengawal Yang Cerdik

Dongeng: Pengawal Yang Cerdik

Pengawal Yang CerdikDi sebuah negeri antah berantah, hidup seorang raja yang sangat merepotkan, raja selalu memiliki permintaan yang aneh dan harus dituruti oleh semua pengawalnya.

Satu waktu raja ingin seluruh barang di dalam istananya berwarna merah, maka semua pengawal sibuk dikerahkan untuk mengganti ornamen dan barang di istana menjadi warna merah.

Dari mulai warna tirai, kursi, meja, taplak, bahkan cat tembok istana semua diganti. Ini bukanlah hal mudah karena untuk mendapatkan barang-barang berwarna merah saja, seluruh pengawal dikerahkan ke pasar beberapa negeri untuk mendapatkannya.

Setelah istana berubah warna menjadi merah sesuai keinginan sang raja, tibalah saatnya raja ingin berjalan-jalan ke luar istana, namun ia tak mau kakinya menginjak bebatuan atau duri, sehingga ia meminta pengawal menghamparkan permadani di sepanjang jalan yang akan raja lalui.

Sekali lagi, permintaan raja yang amat aneh ini membuat kerepotan banyak pengawal, mereka harus membeli permadani merah begitu banyak hanya untuk melapisi tanah, rumput, dan batu-batu agar kaki raja tak perlu menginjaknya. Karena raja akan berjalan kaki sejauh 5 kilometer, maka sebanyak apakah permadani yang perlu dihamparkan?

Hingga akhirnya di istana ada seorang pengawal baru yang amat cerdik.

Saat raja merasa bosan dengan istana merahnya dan menginginkan istana berwarna ungu, para pengawal lainnya sudah bersiap-siap membeli berbagai ornamen berwarna ungu, namun pengawal yang cerdik ini justru mendekati sang raja dan berkata,

“Wahai yang Mulia Raja, mengganti seluruh barang di istana ini menjadi berwarna ungu bukanlah hal yang mudah, maukah Anda kuberi suatu benda yang bisa membuat semua ruangan berwarna ungu tanpa perlu mengganti apapun?”

Raja sangat penasaran benda seperti apakah itu, maka raja setuju pengawal lainnya tidak perlu bersusah payah menyediakan ornamen istana berwarna ungu, syaratnya sang pengawal cerdik ini harus menyiapkan benda yang bisa mengubah semua ruangan berwarna ungu.

Akhirnya hari yang ditentukan tiba, sang pengawal cerdik membawakan sebuah kotak persegi panjang seukuran dua belah tangan dan memberikannya pada raja.

“Kotak inikah yang bisa membuat semua benda berwarna ungu?” Tanya Raja.

“Benar yang Mulia, silakan Anda membuka kotak dan menggunakannya!”

Begitu dibuka, ternyata di dalamnya ada sebuah kacamata berwarna ungu, Raja segera mengambil dan memakainya, ia langsung melihat seluruh benda dan ruangan menjadi berwarna ungu. Raja pun bergembira.

Beberapa hari kemudian, raja kembali menginginkan berjalan kaki hingga ke negeri sebrang, ia memerintahkan pelayan untuk membentangkan permadani di sepanjang jalan agar kakinya tak perlu menginjak bebatuan, rumput, atau tanah.

Sekali lagi, sang pengawal cerdik justru mendekati Raja. “Maukah Raja aku berikan sebuah benda yang bisa membuat Anda berjalan kaki tanpa takut menginjak batu, rumput, tanah, pasir dan lainnya?”

Tentu raja menjadi penasaran dan ingin benda sehebat itu segera dibawakan di hadapannya. Pengawal cerdik pun segera membawakan sebuah kotak cukup besar untuk sang raja.

“Inikah benda yang kau maksud?”

“Ya, silakan raja buka!”

Begitu raja buka kotak itu, isinya adalah sepasang sepatu yang amat bagus karena terasa lembut dan nyaman ketika raja memakainya. Raja pun bisa berjalan kaki jauh tanpa perlu takut kakinya terluka.

Akhirnya para pengawal lainnya pun berbahagia karena tidak lagi direpotkan dengan permintaan aneh petinggi negeri itu.

Sahabat, mengubah orang lain dan sekitar agar sesuai keinginan kita adalah pekerjaan yang merepotkan dan membuat semua orang lelah, cara lebih cerdik adalah dengan mengubah apa yang ada pada diri kita sendiri.

Cerita Dongeng Lainnya :
Dongeng: Batu Besar di Jalan

Dongeng: Kerbau dan Buaya Licik

Dongeng: Kerbau dan Buaya Licik

Kerbau dan Buaya Licik
sumber : iden.web.id

Seekor kerbau mendengar suara minta tolong di dalam hutan, ia pun berjalan mencari sumber suara, kemudian ia melihat seekor buaya sedang terjepit pohon besar dan berteriak minta tolong sambil kesakitan.

“Wahai Kerbaaau, tolong akuuu! Angkat pohon besar ini dari atas punggungku! Sudah semalaman aku di sini meminta tolong tapi tak ada yang membantu,” keluh Buaya sambil terus mengaduh.

Sang Kerbau terlihat ragu, “Aku tak yakin mau bantu kamu Buaya, bagaimana kalau setelah kulepaskan pohon besar ini, Kau malah memangsaku?”

“Aaah, takkan mungkin aku begitu pada penolongku, ayolah Kerbau … aku sudah semalaman kesakitan begini, bantulah aku, aku janji takkan memangsamu,” seru buaya meyakinkan.

Kerbau pun tak tega melihat kondisi buaya yang seperti sudah sekarat, ia angkat batang pohon besar itu dengan tanduknya. Begitu pohon besar terangkat, buaya segera bergerak menjauh dari batang itu, namun dalam sekejap buaya langsung menggigit salah satu kaki belakang kerbau.

“Buaya, apa yang kamu lakukan? Kamu kan sudah berjanji tidak akan memangsaku!” Kerbau panik berusaha melepaskan gigitan buaya.

“Oh Kerbau, Kau sangat baik hati, janganlah tanggung kalau berbuat baik. Kau kan tahu aku sudah semalaman terjepit pohon, perutku lapar sekali, tolong berikan aku satu kakimu saja agar laparku hilang …” ujar buaya sambil terus menjepit kaki kerbau dengan moncongnya.

Kerbau berteriak minta tolong, suara lenguhannya terdengar hingga telinga kancil. Kancil pun akhirnya menemukan kerbau dan buaya yang sedang berseteru.

“Wah, apa yang terjadi padamu Kerbau?” Tanya Kancil kebingungan melihat Kerbau yang kakinya dijepit oleh moncong buaya.

“Tolong aku Kancil, buaya berbohong … tadi aku menolongnya terlepas dari pohon besar karena ia berjanji tidak akan memangsaku, tapi kini Buaya malah menggigit meminta kakiku,” Kerbau bercerita sambil hampir menangis.

“Kancil, bukankah kalau berbuat kebaikan harus tuntas? Aku tidak akan membuat Kerbau mati, hanya minta sebelah kakinya saja kok …,” ujar Buaya membela diri.

“Oke baiklah, aku akan bantu kalian memutuskan harus bagaimana … tapi aku belum yakin akan memihak siapa di antara kalian. Jadi kita akan coba ulangi kembali apa yang sebenarnya terjadi tadi supaya lebih jelas yaa …” ucap Kancil. Buaya dan Kerbau setuju.

Kancil meminta Buaya melepaskan jepitan moncongnya terlebih dahulu dari kaki Kerbau, kemudian meminta Kerbau untuk mempraktikkan apa yang tadi terjadi.

“Tadi aku mendengar suara minta tolong, ternyata buaya sedang terjepit batang pohon besar ini Kancil …” ungkap Kerbau sambil menunjuk batang pohon besar di samping tubuh buaya.

“Baiklah, coba kamu contohkan bagaimana posisi batang pohon ini tadi, apakah di atas punggung Buaya, atau di atas ekornya?”

Kerbau dan Kancil pun bersama-sama mengangkat batang pohon besar itu dan menaruhnya di atas punggung Buaya, hingga Buaya mengaduh kesakitan.

“Aduuuuh … kenapa kalian menaruh lagi batang besar pohon ke atas badanku hah? Sakit sekali ini …” Buaya mencoba menggeliat tapi tak bisa, badannya tertindih pohon besar lagi.

“Ingat baik-baik yaa Kerbau, jangan membantu makhluk seperti Buaya ini, jangan percaya ucapannya apalagi janji manisnya, dan pergilah jauh-jauh agar Kau tak celaka!” Pesan Kancil pada Kerbau.

Kerbau mengerti bahwa Kancil yang cerdik sedang membantunya melepaskan diri dari jeratan Buaya, maka ia berterimakasih pada Kancil dan segera berlari cepat meninggalkan buaya yang melolong minta tolong sambil mengaduh kesakitan.

Cerita Dongeng Lainnya :
Dongeng: Pengawal Yang Cerdik

Dongeng: Batu Besar di Tengah Jalan

Dongeng: Batu Besar di Tengah Jalan

Batu Besar di Tengah Jalan

Pada malam yang gelap gulita, seorang raja menyuruh para pengawalnya untuk menaruh sebuah batu besar di tengah jalan, sementara itu sang raja bersembunyi di kejauhan untuk melihat apa yang akan terjadi.

Pagi hari pun tiba, ternyata batu besar itu membuat kesulitan orang-orang yang lewat. Ada seorang pedagang yang mendorong gerobak, berkeluh kesah dengan keberadaan batu besar itu, ia kesulitan melewatkan gerobaknya di jalan itu karena ada batu besar di tengah jalan.

“Sungguh parah orang-orang dan Raja di negeri ini, membiarkan ada batu sebesar ini menutupi jalan!” Pedagang itu misuh-misuh sambil berupaya membuat gerobaknya melewati pinggiran jalan yang tak tertutupi batu besar.

Kemudian ada seorang pesepeda yang akan lewat jalan itu juga, bukan hanya mengeluh tapi mencaci maki batu besar yang menutupi bagian tengah jalan itu.

Demikian juga seorang ibu pejalan kaki, marah-marah melihat jalanan yang cukup macet karena batu besar menghalangi.

Raja yang melihat dari kejauhan hanya menggelengkan kepalanya, sudah beberapa jam ia menyaksikan apa yang terjadi, dan semua orang hanya bisa mengeluh, mencaci, marah-marah, tapi tak melakukan apa-apa untuk menyingkirkan batu besar itu.

Jelang siang, matahari sudah di atas kepala, panasnya terasa terik menyengat kulit. Seorang petani dengan pacul di bahunya melewati jalanan itu. Ia terkejut melihat keberadaan batu besar di tengah jalan yang membuat orang-orang enggan melewati jalanan tersebut dan lebih memilih melewati jalan yang lain.

Petani itu menaruh paculnya, kemudian berusaha keras menggeser batu besar tersebut. Dengan sedikit upaya, ia berhasil membuat batu menggelinding dan bisa disingkirkan dari tengah jalan.

Betapa terkejutnya sang petani, rupanya di bawah batu besar tadi terpendam kotak dan ada secarik catatan di atasnya yang menyebutkan bahwa kotak tersebut adalah hadiah untuk siapapun yang telah menyingkirkan batu besar itu.

Sang petani mengambil dan langsung membuka kotak tersebut, matanya langsung terbelalak tak percaya melihat apa isinya.

Ternyata ada kepingan emas yang amat banyak jumlahnya di dalam kotak tersebut, serta secarik kertas bertuliskan ucapan terimakasih karena telah peduli atas kepentingan banyak orang dengan menyingkirkan batu penghalang dari tengah jalan.

Sahabat, ketika mengetahui ada persoalan besar yang membuat banyak orang kesulitan, jangan pura-pura tidak tahu, mengabaikannya, atau bahkan mencaci makinya.

Cobalah mencari solusi untuk mengatasinya, dan lakukan sesuatu untuk menyingkirkan persoalan tersebut. Niscaya kita akan mendapat balasan luar biasa yang tak terduga.

Artikel lainnya :
Dongeng: Kerbau dan Buaya Licik