Itikaf: Arti, Tata Cara, dan Waktu Pelaksanaan

Rate this post

itikaf

Sepuluh hari terakhir Ramadhan identik dengan ibadah i’tikaf di masjid, namun bukan sekadar pindah tempat tidur ke masjid yaa, sudah tahukah Sahabat apa yang dimaksud dengan i’tikaf dan bagaimana tata caranya? Simak selengkapnya di sini.

Arti dari I’tikaf

I’tikaf berasal dari bahasa Arab ‘Akafa’ artinya ‘menetap’, ‘mengurung diri’ atau ‘terhalangi’. Pengertiannya kurang lebih berdiam diri di dalam masjid untuk mencari keridhoan Allah dan bermuhasabah atas segala perbuatan.

Makanya, beri’tikaf bukan sekadar perpindahan tempat aktivitas dari rumah ke masjid, tapi juga perpindahan hati dari segala urusan duniawi ke ukhrawi.

Waktu Pelaksanaan I’tikaf

I’tikaf di bulan Ramadhan biasanya dilakukan pada 10 hari terakhir, sebagaimana yang dicontohkan oleh Rasulullah SAW. hingga akhir hayatnya:

“Sesungguhnya Nabi SAW melakukan i’tikaf pada sepuluh hari terakhir bulan Ramadan hingga beliau wafat, kemudian istri-istrinya mengerjakan i’tikaf sepeninggal beliau.” (H.R. Bukhari dan Muslim)

Apakah i’tikaf berarti harus menginap di masjid? Ulama mazhab Hanafi, Syafi’I, dan Hambali bersepakat bahwa waktu sahnya beri’tikaf adalah sa’ah, baik di siang atau malam hari.

Apa itu sa’ah? Dalam bahasa Arab modern, sa’ah dimaknai dengan satu jam atau 60 menit. Sementara, istilah yang digunakan oleh para ulama masa lalu untuk memaknai sa’ah adalah sesaat atau seperti selama tuma’ninah shalat. Artinya, meski hanya satu jam berdiam diri di masjid sudah dapat dikatakan beri’tikaf.

Tata Cara Yang Bisa dilakukan Saat I’tikaf

1. Awali dengan niat yang benar

Jangan sampai kita salah memasang niat dalam melakukan i’tikaf, sungguh amat disayangkan karena semua amalan dinilai oleh Allah tergantung niatnya.

Ada orang yang berniat i’tikaf hanya untuk mendapat  makan sahur dan buka puasa gratis. Ada juga yang berniat i’tikaf karena ingin menghindari permasalahan di rumah. Awas … Salah niat bisa gawat!

Jadi niat seperti bagaimanakah yang harus kita pasang saat beri’tikaf? Yap, niat untuk mendekatkan diri pada Allah dan membersihkan diri dari segala kesalahan.

2. Memperbanyak shalat sunah

Begitu sampai di masjid, kita bisa mengawali dengan shalat sunah tahiyatul masjid. Sebelum dan sesudah shalat wajib bisa kita iringi dengan shalat sunah qobliyah maupun ba’diyah.

3. Memperbanyak tilawah qur’an

Selama berdiam diri di masjid, jangan habiskan waktu untuk scroll hp, online, melainkan perbanyaklah membuka lembaran mushaf Qur’an.

Upayakan bisa khatam qur’an di saat melakukan i’tikaf di masjid hingga akhir Ramadhan, meskipun tidak diwajibkan khatam, namun sungguh besar pahala yang diperoleh jika kita mampu menyelesaikan bacaan 30 juz Al Qur’an di bulan suci ini.

“Siapa yang membaca satu huruf dari Al Quran maka baginya satu kebaikan dengan bacaan tersebut, satu kebaikan dilipatkan menjadi 10 kebaikan semisalnya dan aku tidak mengatakan “alif lam mim” satu huruf akan tetapi Alif satu huruf, Laam satu huruf dan Miim satu huruf” ( HR. Tirmidzi)

4. Memperbanyak dzikir, tahlil, tahmid, tasbih

Perbanyak dzikir seperti bacaan tahlil, tahmid serta tasbih selama beri’tikaf, jangan biarkan waktu terlewati tanpa membasahi lisan dengan dzikir.

Imam Muslim dalam kitab shahihnya meriwayatkan hadits dari Samurah bin Jundab ra.:

“Rasulullah SAW bersabda: Kalimat yang paling dicintai Allah ada 4. Anda tidak ada salah memulai dari kalimat mana saja: Subhanallah, Alhamdulillah, Laa ilaaha illallah, dan Allahu Akbar.”

“Barangsiapa bertasbih sebanyak tiga puluh tiga kali, bertakbir tiga puluh tiga kali, dan bertahmid tiga puluh tiga kali, kemudian mengucapkan: Laa ilaaha illa Allah wahdahu laa syarikalah lahul mulku wa lahul hamdu wa huwa ’ala kulli sya’in qadir, setiap selesai shalat, maka akan diampuni dosanya meski sebanyak buih di lautan.”(HR Imam Ahmad, Darimi, Malik)

5. Memperbanyak shalawat nabi

Bershalawat untuk Rasulullah SAW. merupakan satu hal yang perlu diperbanyak selama melakukan i’tikaf. Sungguh, hanya Rasulullah SAW saja yang dapat memberikan syafaat pertolongannya pada kita di akhirat nanti. Maka, memperbanyak shalawat berarti memperbesar kemungkinan kita mendapat syafaat Rasulullah SAW.

Dalam sebuah hadist riwayat Imam Thabrani dari Sahabat Anas bin Malik dikatakan, “Siapa yang bershalawat untukku maka shalawat itu akan sampai padaku dan aku akan bershalawat untuknya, dan baginya akan dicatat 10 kebaikan.”

6. Memperbanyak doa

Saat melakukan i’tikaf kita bisa memperbanyak doa, apalagi doa adalah inti ibadah, saat kita menyadari kelemahan sebagai hamba. Allah sendiri menyebut orang yang tak mau berdoa sebagai orang yang sombong.

“Dan Tuhanmu berfirman: “Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku akan masuk neraka Jahannam dalam keadaan hina dina.” (Q.S. Al Mukmin: 60)

Demikianlah beberapa hal yang perlu kita ketahui mengenai i’tikaf, selamat mempraktikkan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *